Supriatna menanam 5.000 batang tanaman tomat di lahan seluas 2.100 m2. Sampai saat ini ia baru memanen 40% dari total yang seharusnya dipanen sebesar 12 ton, baru 5 ton tomat yang dipanen. "Baru panen 5 ton, dipanen lebih banyak juga nambahin ongkos," tambahnya.
Ia mengeluhkan sebetulnya baru memanen 5 ton pun sudah rugi. "Jangankan balik modal, sama sekali nggak nyampe, rugi. Modalnya per batang Rp 3.000, saya tanam 5.000 batang. Artinya modalnya Rp 15 juta dan mestinya panen 12 ton harga paling tidak Rp 1.000/kg baru bisa balik modal," terangnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perhitungannya, jika Supriatna memanen seluruh tomatnya sebanyak 12 ton dengan harga Rp 300/kg maka hanya akan mengantungi Rp 3,6 juta sementara modalnya mencapai Rp 15 juta. Supriatna masih perlu mengeluarkan biaya membeli peti kayu Rp 6.000/buah. Untuk mengangkut 12 ton tomat diperlukan 300 buah peti sebesar Rp 1,8 juta. Ditambah biaya transport jika ia menjual ke pasar lokal.
Supriatna mengaku, baru bisa balik modal jika tomat bisa dijual dengan harga Rp 1.000/kg. "Kalau semua bisa panen, harganya Rp 1.000/kg saja sudah bisa balik modal," terangnya.
Jika dihitung, dengan memanen 12 ton dengan harga Rp 1.000/kg, Supriatna mengantongi Rp 12 juta dan menurutnya cukup kembali modal, meski sebetulnya modal yang dikeluarkan mencapai Rp 15 juta.
Keuntungan baru didapat Supriatna jika menjual 12 ton tomat dengan harga minimal Rp 1.500/kg. Akan diperoleh hasil Rp 18 juta, masih ada selisih keuntungan dari modal Rp 15 juta yang dikeluarkan.
Supriatna menyayangkan, kerugian yang dialami para petani tomat di Garut belum mendapat perhatian dari pemerintah. "Nggak ada bantuan atau perhatian sama sekali dari pemerintah. Kita rugi nanggung sendiri," pungkasnya.
(rrd/rrd)











































