"Proyeksi ke depan sampai akhir tahun masih tersisa 5 bulan lagi. Kita juga sebenarnya harap-harap cemas," kata Deputi Bidang Statistik Produksi BPS, Adi Lumaksono, di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (18/8/2015).
BPS juga akan memantau perkembangan situasi dan kondisi pasar global. Salah satunya adalah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan mata uang negara lain.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Baru-baru ini yang menjadi perhatian adalah depresiasi yuan. Kita harus hati-hati karena bahwa nanti dimungkinkan banyak barang China masuk ke kita, kalau barangnya murah," tambahnya.
Dengan 'murahnya' yuan, maka ekspor China akan meningkat. Saat ini porsi barang impor Indonesia asal China setara 25% dari total impor.
"Ada kemungkinan naik atau tidak, ya ada," ujarnya.
Guna mengantisipasi hal tersebut, BPS meminta pemerintah menggenjot pemakaian barang-barang dalam negeri.
"Bagaimana menyikapi itu salah satunya gunakan produk-produk dalam negeri. Maka harapan kita (impor dari China) tidak akan membesar, justru kalau bisa ekspor naik," katanya.
(ang/hen)










































