Hal ini disampaikannya dalam pertemuan dengan para peneliti dalam negeri hingga internasional dari berbagai negara. Sebanyak 31 peneliti mempresentasikan hasil kajian terbaiknya dalam acara konferensi internasional di Bappenas bertema 'Best Development Practice and Policy', di Kementerian PPN/Bappenas, Rabu (19/8/2015).
"Negara kita begitu besar lautnya. Sekian lama tidak perhatikan. Ada 17.000 kapal sebagian besar illegal fishing. Seandainya kalau tidak ada perbaikan policy saat ini, 10 tahun lagi mungkin Indonesia tidak punya ikan. Ibu Susi (Menteri Kelautan dan Perikanan) masuk dan langsung tegas melarang illegal fishing, pasca itu ikan cepat sekali recovery," kata Sofyan di acara tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soal pariwisata, Sofyan bercerita sambil melempar candaan di depan periset asing yang datang ke Indonesia sesekali akan menjadi turis.
"Pariwisata Indonesia, semua orang katakan sangat potensial. Jangan sampai Indonesia hanya terus nenjadi negara potensial. Harus berani mengambil terobosan. Indonesia bisa seperti Maldives," jelasnya.
Menurutnya, objek wisata yang diminati internasional cukup banyak, namun perlu didukung fasilitas yang membuat turis betah. "Tinggal bagaimana bikin WC yang bersih. Ada jokes kalau makan di Indonesia, jangan ke toilet dulu, bisa nggak jadi makan. Bagaimana restoran dan hotel bersih. Lingkungan menyenangkan dan masyarakat yang tidak menguntit 'bule' berjalan," kata Sofyan yang diikuti tawa para hadirin.
Di bidang pendidikan, Sofyan berpendapat kualitas pendidikan RI masih jauh dari harapan. "Survei yang dibuat Bappenas, kenapa yang mau jadi wirausaha justru yang berpendidikan tidak tinggi. Kenapa semakin tinggi pendidikan justru semakin dependen (bergantung), sementara yang pendidikan rendah lebih independen. Ada yang salah dalam policy di bidang pendidikan," terangnya.
Ia menyampaikan terkait masyarakat Indonesia yang mau tidak mau masuk ke era digital. "Survei di AS, 46% pekerjaan konvensional akan tergantikan dengan teknologi. Supir taksi dan tidak akan diperlukan lagi, semua serba otomatis dan mesin. Anak-anak kita akan masuk ke dunia yang kita tidak pernah bayangkan sebelumnya. Kita akan masuk dalam Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Impactnya juga menggiring anak-anak kita ke dunia baru," katanya.
(hen/hen)











































