Hal ini dinyatakan oleh Direktur Utama PT Semen Tonasa, Andi Unggul Attas, di kantor perwakilan Semen Tonasa, Jalan Chairil Anwar, Makassar, kamis (20/8).
"Yang terbakar hanyalah alat belt conveyor, yaitu alat untuk mengangkut batu bara dari gudang ke coal mill, bukan bangunan pabrik, yang terbakar adalah karetnya yang disebabkan dari gesekan batu bara dan hembusan angin, alat tersebut memang sedang tidak beroperasi atau dalam proses pemeliharaan selama sepekan, yang waktunya kebetulan bersamaan dengan kejadian kebakaran, jadi peristiwa ini tidak berpengaruh pada suplai semen ke kawasan timur Indonesia," ujar Unggul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Unggul menambahkan, peristiwa kebakaran di alat belt conveyor sudah dinyatakan oleh Polres Pangkep tidak ada unsur sabotase. Melainkan disebabkan oleh faktor alam, yakni hembusan angin yang menyebabkan batu bara terbakar.
"Sifat batu bara itu kalau diam mudah terbakar sendiri, setiap produksi distop standard operational procedure-nya batu bara harus dibersihkan dari belt conveyor dengan menggunakan raw mill, kejadian kemarin terjadi saat proses pembersihan, saat ini tim Forensik Polda Sulselbar masih menyelidiki peristiwa ini," pungkas Unggul.
Terkait peristiwa ini pihak Semen Tonasa tidak mengalami kerugian, karena alat belt conveyor yang terbakar akan ditanggung oleh pihak asuransi.
Sedangkan 10 korban saat ini dirawat di 3 rumah sakit di Makassar, yakni RS Dr Wahidin Sudirohusodo, RS Awal Bross dan RS Stella Maris. Sementara korban tewas bernama Akbar (27) telah dimakamkan siang tadi di kampung halamannya, di Ka'ba, Kec. Balocci, Pangkep.
(mna/rrd)











































