Ini Sektor yang Paling Terkena Dampak Perlambatan Ekonomi

Ini Sektor yang Paling Terkena Dampak Perlambatan Ekonomi

Lani Pujiastuti - detikFinance
Minggu, 23 Agu 2015 12:27 WIB
Ini Sektor yang Paling Terkena Dampak Perlambatan Ekonomi
Jakarta - Kondisi perlambatan ekonomi dirasakan dampaknya oleh hampir semua sektor usaha di Indonesia. Namun yang paling merasakan dampak dari lambatnya pertumbuhan ekonomi ini adalah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati mengatakan, saat ini UMKM adalah sektor penggerak ekonomi terbesar di Indonesia.

"Usaha terbesar di negara kita memang UMKM. Sebanyak 99% usaha di Indonesia merupakan UMKM. Kalau terjadi pelambatan, artinya yang melambat adalah yang jumlahnya paling besar itu," tutur Enny di acara Diskusi Senator Kita di Hall Dewan Pers, Jakarta, Minggu (23/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Enny mengatakan, UMKM bisa menjadi penopang ekonomi Indonesia di tengah gejolak perlambatan ekonomi global, yang saslah satu dampaknya adalah menurunkan daya beli masyarakat. Belum lagi menurut Enny, Indonesia tengah dihantam dengan terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

"Kalau Amerika Serikat menurunkan suku bunga The Fed (Federal Reserve) itu sengaja melemahkan mata uang. Kalau kita, tidak diturunkan saja sudah terdepresiasi. Masih ada kesempatan meningkatkan competitiveness di UMKM yang menopang 98% usaha. Kita harus tingkatkan SDM (Sumber Daya Manusia) mulai dari sekolah menengah kejuruan diberi bekal spesifik," papar Enny.

"Juli neraca lerdagangan masih surplus. Neraca perdagangan dengan China defisit luar biasa. Kalau China mendevaluasi mata uang, bagaimana bisa bersaing produk UMKM kita," imbuhnya.

Karena sebagai penopang ekonomi terbesar di Indonesia, Enny mengatakan, pemerintah harus memfasilitasi UMKM agar terus berkembang. Saat ini, daya saing produk UMKM Indonesia masih belum tinggi dibanding produk sejenis dari negara lain. Oleh karena itu, fasilitas dari pemerintah sangat dibutuhkan.

"Contoh saja, beri kemasan menarik, dampingi mendapat labeling hingga didik menembus pasar ekspor. Subsidi KUR Rp 900 Miliar kami harap bisa terealisasi betul sampai ke UMKM di akhir tahun ini," tutupnya.

(zul/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads