Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Jawa Timur, Sukoco mengungkapkan, banyaknya saluran distribusi cabai rawit merupakan mekanisme pasar yang sudah terjadi sejak lama dan sulit dipangkas.
"Saya rasa sulit kalau dipotong dari yang saat ini 5 rantai. Harus ada campur tangan pemerintah untuk memaksakan rantai pasok diperpendek," ujar Sukoco dihubungi detikFinance, Sabtu (21/8/2105).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sukoco menyebut, tingginya harga cabai rawit yang terjadi saat ini murni masih panjangnya rantai pasok, juga memang disebabkan pasokan cabai dari petani sedang sedikit karena belum masuk masa panen.
"Sekarang memang sedikit. Tapi nanti September sudah masuk masa panen. Wajar pedagang ambil untung 10% karena risiko kerusakan dan penyusutan cabai cukup tinggi. Maka di sinilah peran pemerintah dalam memperbaiki tata niaga cabai," jelas Sukoco.
Meski demikian, lanjut Sukoco, beberapa petani cabai memang memiliki keterikatan dengan pedagang pengumpul atau tengkulak saat menjual hasil panennya.
"Ada yang terikat karena dimodalin sama tengkulak. Tapi tidak hanya antara 10-20% saja. Sisanya, rata-rata petani pakai modal sendiri," tuturnya.
Sukoco mengatakan, lewat campur tangan pemerintah pula, kualitas pengiriman dan penyimpanan cabai bisa diperbaiki.
"Rata-rata sampai Jakarta bisa 5 hari, pasti ada yang rusak 10%. Kalau di supermarket secara kualitas bisa terjaga dengan baik, sekaligus jadi proteksi harga untuk konsumen," imbuh Sukoco.
(dnl/dnl)











































