Ada 5 'Tangan' di Rantai Distribusi Cabai, Bisakah Dipangkas?

Ada 5 'Tangan' di Rantai Distribusi Cabai, Bisakah Dipangkas?

Muhammad Idris - detikFinance
Senin, 24 Agu 2015 08:33 WIB
Ada 5 Tangan di Rantai Distribusi Cabai, Bisakah Dipangkas?
Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut tingginya harga cabai rawit di Jakarta disebabkan panjangnya rantai distribusi, hingga ada 5 'tangan'. Sabtu lalu, harga cabai rawit di pasar-pasar tradisional di Jakarta dibanderol Rp 60.000/kg, sementara di tingkat petani, harganya masih berkisar Rp 40.000/kg untuk cabai kualitas utama.

Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Jawa Timur, Sukoco mengungkapkan, banyaknya saluran distribusi cabai rawit merupakan mekanisme pasar yang sudah terjadi sejak lama dan sulit dipangkas.

"Saya rasa sulit kalau dipotong dari yang saat ini 5 rantai. Harus ada campur tangan pemerintah untuk memaksakan rantai pasok diperpendek," ujar Sukoco dihubungi detikFinance, Sabtu (21/8/2105).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peran pemerintah, kata Sukoco, bisa dilakukan pemerintah dengan mengambil alih langsung layer (tingkat) distribusi cabai rawit tangan Perum Bulog atau pemerintah daerah.

Sukoco menyebut, tingginya harga cabai rawit yang terjadi saat ini murni masih panjangnya rantai pasok, juga memang disebabkan pasokan cabai dari petani sedang sedikit karena belum masuk masa panen.

"Sekarang memang sedikit. Tapi nanti September sudah masuk masa panen. Wajar pedagang ambil untung 10% karena risiko kerusakan dan penyusutan cabai cukup tinggi. Maka di sinilah peran pemerintah dalam memperbaiki tata niaga cabai," jelas Sukoco.

Meski demikian, lanjut Sukoco, beberapa petani cabai memang memiliki keterikatan dengan pedagang pengumpul atau tengkulak saat menjual hasil panennya.

"Ada yang terikat karena dimodalin sama tengkulak. Tapi tidak hanya antara 10-20% saja. Sisanya, rata-rata petani pakai modal sendiri," tuturnya.

Sukoco mengatakan, lewat campur tangan pemerintah pula, kualitas pengiriman dan penyimpanan cabai bisa diperbaiki.

"Rata-rata sampai Jakarta bisa 5 hari, pasti ada yang rusak 10%. Kalau di supermarket secara kualitas bisa terjaga dengan baik, sekaligus jadi proteksi harga untuk konsumen," imbuh Sukoco.

(dnl/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads