Lonjakan harga daging ayam di pasar-pasar Jabodetabek yang mencapai Rp 40.000/Kg selama ini ditenggarai karena berkurangnya pasokan bibit ayam pasca Lebaran di tingkat peternak. Namun berdasarkan penelusuran lapangan, pengakuan peternak justru mengungkapkan hal yang berbeda, mereka tak menaikkan harga apalagi mengurangi stok.
Kementerian Pertanian yang diwakili staf ahli menteri bidang investasi pertanian Syukur Iwantoro didampingi sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Riwantoro kemarin mendatangi kelompok peternak unggas Berkah Farm di Desa Sukaindah Kecamatan Sukakarya Kabupaten Bekasi Bekasi, Minggu (23/8/2015).
Di peternakan unggas seluas 1 hektar tersebut terdapat 3 kandang yang sedang terisi penuh. Satu kandang terisi ayam ras usia 26 hari yang siap dipanen dalam 2-3 hari mendatang. Kelompok Berkah Farm beranggotakan para peternak di 30 lokasi kandang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kosong chick-in itu hanya itu hanya di hari raya saja. Setelah itu normal lagi. Kalau harga pakan dan konsentrat memang naik sedikit mengikuti harga dolar. Harga bibit ayam atau day old chick (DOC) saat ini 5.000/ekor. Ini sedang naik sedikit dari normalnya Rp 4.000/kg," imbuhnya.
Hal senada dituturkan Sudirman, peternak sekaligus ketua gabungan kelompok usaha ternak Berkah Farm, mengatakan tak ada upaya penurunan produksi ayam pasca Lebaran seperti yang dianggap selama ini.
"Kami total memasukkan 80.000-100.000 ekor per minggu. Lebaran saja kita off chick-in. Setelah lebaran memang ada kekhawatiran dari kami para anggota akan mengurangi chick-in karena was-was penjualan menurun setelah lebaran. Tapi nyatanya nggak, tetep aja produksi seperti biasa," ujar Sudirman.
Sudirman menjual ayam hidup seharga Rp 21.000/ekor dengan bobot 1,1 kilogram. "Harga mengikuti harga pasar saja. Dari kelompok tidak menentukan harga. Saya jual Rp 21.000/ekor buat ukuran 1,1 kg," terang Sudirman.
Menurutnya bila harga ayam bobot 1,1 kg di tingkat peternak berkisar Rp 21.000-22.000/ekor maka idealnya pengecer atau pedagang bisa menjual Rp 30.000/ekor. Namun faktanya harga ayam di Jabodetabek harganya sudah mencapai Rp 40.000/Kg.
"Pengecer saya rasa masih bisa dapat harga Rp 30.000/ekor Peternak ke distributor. Dari peternak kan bisa langsung pengecer," imbuhnya.
Menurutnya pemberitaan soal tingginya harga daging ayam bisa merugikan peternak. "Pemberitaan tingginya harga ayam di pasar nggak menguntungkan bagi kami, kami khawatir ada spekulasi," katanya.
Mujarob yang juga Ketua Kelompok Ternak Varida Agung menambahkan bahwa peternak tak pernah mengurangi pasokan ayam, yang selama ini diduga menyebabkan pasokan berkurang dan harganya naik.
"Kami tidak pernah menahan ayam. Kami juga heran kenapa pemberitaan itu harga daging ayam mahal. sejauh ini tidak ada masalah di peternak. Kami justru takut kehilangan pelanggan kalau menaikkan harga atau menahan stok ayam. Di lapang ada banyak pekerja yang kerja cari rezeki. Kami tidak pernah menunda atau mengulur produksi," kata Mujarob.
Ia menjelaskan tidak ada kenaikan harga ayam hidup dari peternak. "Harga ayam hidup bobot 1,3 kg masih Rp 23.000 kalau 1,5 kg harga Rp 25.000. Rata-rata 20.000/kg," kata Mujarob.
Setiap harinya kelompok ternak ini mengeluarkan stok sebanyak 15.000 ekor. Ia mengatakan rantai distribusi ayam berbeda dengan sapi, rantai distribusinya lebih pendek.
"Ayam kita bisa produksi sendiri. Rantainya pun cukup pendek. Dari peternak ada yang namanya pedagang pengumpul atau tengkulak istilahnya lalu ke pengecer. Ada juga yang langsung ke pengecer. Prosesnya pun singkat hanya perlu membersihkan bulu dan kotoran," terang Mujarob.
(hen/hen)











































