Dampak Rupiah Melemah, Bisnis Agen Perjalanan Sepi

Dampak Rupiah Melemah, Bisnis Agen Perjalanan Sepi

Lani Pujiastuti - detikFinance
Senin, 24 Agu 2015 16:20 WIB
Dampak Rupiah Melemah, Bisnis Agen Perjalanan Sepi
Jakarta - Nilai tukar Dolar AS terhadap rupiah hari ini sempat tembus Rp 14.000. Salah satu bisnis yang terkena dampak terus tergerusnya kurs Rupiah yaitu agen perjalanan wisata. Pendapatan mereka turun 50% dibandingkan tahun sebelumnya.

Salah satu agen perjalanan wisata di daerah Pasar Senen Jakarta Pusat mengaku belum mendapat orderan dari pelanggan yang hendak memanfaatkan libur akhir tahun untuk berlibur ke mancanegara. Padahal beberapa bulan lagi akan masuk musim liburan akhir tahun disebut sebagai high-season bagi para travel agen.

"Agustus ini biasanya mulai ramai orang datang mau arrange tiket dan lokasi wisata liburan akhir tahun kan high-season, tapi sampai sekarang sepi," jelas Lusi, salah seorang staf agen perjalanan wisata kepada detikFinance di kantornya Pesona Travel, di Pasar Senen Jakarta Pusat, Senin (24/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lusi menjelaskan, meski transaksi saat ini sepenuhnya sudah menggunakan Rupiah, menguatnya Dolar berdampak dari segi harga paket tour dari agen wisata rekanannya di luar negeri.

"Dolar naik tetap ngaruh terutama ke tour-tour yang lokasinya masih pakai Dolar. Misal kita mau tour ke Bangkok atau Singapura, di sana kerjasama sama agen tour yang ngurusin paket wisatanya. Mereka tetep transaksi pake Dolar. Beberapa hotel taraf internasional di luar negeri juga kan tetep pakai Dolar karena lebih simpel," kata Lusi.

Lusi melempar candaan soal naiknya Dolar dan aturan wajib pakai Rupiah untuk transaksi di dalam negeri. "Misal nih mau ke Eropa. Tiket internasional semua transaksinya udah pake rupiah. Harus membiasakan dengan jumlah nominal nol yang banyak. Mau ke Eropa aja satu tiket misal US$ 25.000, kursnya Rp 14.000 kan jadi Rp 40 juta. Berangkat tiga orang, Hah! Rp 120 juta. Pakai Rupiah jadi berasa banyak banget nolnya," candanya.

Kuras Dolar yang terus menerus di tahun ini dinilai Lusi turut menjadi penyebab omzet agen travel tempatnya bekerja turun drastis sampai 50% dibanding tahun lalu.

"Omzet kita tahun ini turun jauh banget dibanding tahun lalu. Pertama karena perjalanan dinas dibatasi. Itu dampak banget ke pemesanan perjalanan dari pemerintahan. Kedua, Dolar itu ngaruhnya ke masyarakat umum. Kemarin aja libur anak sekolah bisa dibilang sepi tahun ini sepi. Ngga tahu deh masih sepi atau nggak sampai high-season nanti. Apalagi dibanding tahun lalu di high-season kan Dolarnya normal-normal aja," ujarnya.

Meski makin sepi order, Lusi mengaku masih banyak pelanggannya berwisata ke Bangkok, Singapura maupun Kuala Lumpur. "Bangkok, Singapura, Kuala Lumpur masih banyak. Dibilang krisis tetep ada aja yang jalan-jalan meski emang jumlahnya turun sih. Eropa dan Amerika di kita jarang," imbuhnya.

(hen/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads