'Ada Negara yang Tidak Sembuh Pasca Krisis 2008'

'Ada Negara yang Tidak Sembuh Pasca Krisis 2008'

Lani Pujiastuti - detikFinance
Kamis, 27 Agu 2015 09:15 WIB
Ada Negara yang Tidak Sembuh Pasca Krisis 2008
Foto: Lani/detikFinance
Jakarta - Pasar keuangan global saat ini tengah goyang dan perekonomian dunia belum stabil. Semua ini bermula dari krisis keuangan hebat di dunia yang terjadi pada 2008 lalu.

Memang, krisis yang dimulai dari masalah subprime mortgage di Amerika Serikat (AS) itu telah selesai diredam oleh pemerintah AS, dengan menyuntikkan modal (bailout) ke lembaga-lembaga keuangannya.

"Tapi jangan lupa, sesudah itu muncul krisis di Eropa. Banyak negara (di Eropa) yang APBN-nya bolong, jaminan sosial besar tidak diimbangi dengan penerimaan pajak, dan ada surat utang yang statusnya downgrade (turun peringkat). Kejadian di Eropa ini memunculkan kontinuitas, dan rupanya banyak negara yang tidak survive (bertahan)," ungkap Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bambang mengungkapkan hal ini dalam acara Bloomberg Businessweek Breakfast Meeting 'Waspada Ekonomi Indonesia', di Nusantara Room, Dharmawangsa Hotel, Jakarta Selatan, Kamis (27/8/2015).

Mantan Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia ini mengatakan, ada sejumlah negara yang belum sembuh dari krisis 2008 dan Eropa tersebut.

Kewaspadaan pelaku ekonomi, khususnya di sektor keuangan muncul, dengan jatuhnya harga komoditas mulai akhir 2011, dan tren ini terus terjadi.

"Kenaikan permintaan akibat turunnya harga tidak permanen. Semua orang seolah-olah lupa, teori mikro ada bisnis cycle. Suatu saat di atas, lalu harus siap setelah itu di bawah," jelas Bambang.

Kondisi turunnya harga komoditas ini membuat perekonomian dunia melambat mulai 2012. Indonesia, ujar Bambang, harus bergerak cepat dan tak lagi menggantungkan perekonomian pada komoditas semata. Para pelaku usaha harus mengkaji bisnisnya dengan pola perekonomian di masa depan, yang tak boleh lagi bergantung pada komoditas.

Contoh saja harga minyak yang turun ke kisaran US$ 50 per barel, dari puncaknya di atas US$ 100 per barel pada pertengahan 2014. Ini menimbulkan guncangan ekonomi, demikian juga dengan normalisasi kebijakan ekonomi di AS karena ekonominya dianggap sudah membaik. Investor mulai mengalihkan investasinya ke dolar AS.

"Kalau 2011-2012 emerging market dianggap future economic growth, sekarang menjadi hal yang harus dihindari. Terlihat dari tekanan capital outflow. Ditambah komplikasi devaluasi yuan," kata Bambang.

Dia mengakui ada perlambatan ekonomi dunia. International Monetary Fund (IMF) memprediksi ekonomi dunia tumbuh 3,3% di tahun ini. Namun fokus pelaku ekonomi saat ini lebih kepada ketidakpastian.

"Apakah devaluasi akan terus menerus, apakah harga-harga akan terus seperti ini," imbuh Bambang.

Pemerintah menyatakan, ekonomi Indonesia saat ini lebih baik dari kondisi krisis 1998 dulu. Kondisi keuangan perbankan relatif terjaga.

(dnl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads