Membiarkan rambut keritingnya terurai, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti bicara mengenai kelautan dan perikanan Indonesia kepada para kalangan cerdik dan pandai serta pihak-pihak swasta di Kampus Nanyang Technoloy University (NTU), Singapura. Jelas, terang, dan tegas yang ia sampaikan: Indonesia tidak anti asing, tapi menolak investor asing terlibat dalam pengurusan penangkapan ikan.
Selama satu setengah jam, Susi, yang tidak sukses dalam dunia pendidikan formalnya ini, bicara dan menghadapi pertanyaan para peserta Public Lecture di The Joyden Hall, Bugis+, Singapura yang berakhir pukul 12.30 waktu setempat, Kamis (27/8/2015). Public Lecture ini digelar S Rajaratnam School of International Studies (RSIS) NTU. Hadir dalam acara ini Ambassador Barry Desker dari RSIS, Dubes RI untuk Singapura Andri Hadi, Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan Sjarief Widjaja, dan Ketua Tim Pemberantasan Illegal Fishing Mas Achmad Santosa.
Dengan bahasa Inggris yang sangat baik, Susi membawakan makalahnya berjudul 'Understanding Indonesia's Marine Policy: Economic and Security Challenges'. Dia membawakan presentasi dalam beberapa slide disertai penjelasan yang sangat mudah dipahami. Antara lain Susi menjelaskan mengenai posisi Indonesia yang sangat strategis dengan kekayaan alamnya, termasuk sumber daya kelautan dan perikanan yang luar biasa. Namun selama ini tidak teroptimalkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Susi tidak ingin kejadian ini semakin parah. Dia menginginkan agar sumber daya perikanan bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan dan ikan di laut tersedia bagi para nelayan demi generasi mendatang. Karena itu, dia mengeluarkan sejumlah peraturan menteri yang melarang penangkapan dan penjualan lobster dan kepiting yang masih kecil.
Susi juga melarang penggunaan alat tangkap yang mengeksploitasi ikan dan mengaturnya dengan ketat. Susi juga mengatur mengenai penangkapan dan penjualan tuna dan upaya pelestarian terumbu karang. Menggandeng aparat kepolisian dan TNI, Susi juga melakukan penegakan hukum terhadap kapal-kapal asing berbendara ganda yang mencuri ikan dan melakukan traksasi ikan di tengah laut yang sangat merugikan Indonesia. Susi juga menenggelamkan kapal-kapal bermasalah dan membawa pemiliknya ke pengadilan.
Apa yang ia lakukan, kini sudah didapat hasilnya. Susi antara lain memperlihatkan foto bagaimana nelayan tradisional di Maluku saat ini bisa menangkap ikan tuna berukuran besar. "Selama ini mereka tidak pernah memperolahnya," kata Susi. Di kuartal pertama, bidang perikanan juga tumbuh 8,64 persen, jauh lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi yang hanya 4,71 persen.
Di tahun mendatang, Susi akan bekerja lebih keras lagi agar pembangunan kelautan dan perikanan bisa memperkuat kesejahteraan para nelayan, petani ikan, perusahaan pengolahan dan para eksportir. Antara lain Susi akan mengembangkan produsen garam rumah tangga, pembangunan pulau-pulau kecil yang terintegrasi, pembangunan technopark Kelautan dan Perikanan, pengembangan nilai tambah untuk rumput laut, pembangunan pakan ikan yang mandiri (tidak impor), dan penyederhanaan sertifikat dan pengurangan tarif. Susi juga akan memperbanyak pabrik-pabrik pengolahan ikan, termasuk membangun cold storage.
Untuk membangun semua ini, Susi mengajak investor asing untuk berbondong-bondong melakukan investasi di bidang kelautan dan perikanan di Indonesia. "Silakan investor asing untuk membangun pabrik-pabrik pengolahan ikan di Indonesia, tapi tidak untuk penangkapan ikan," tegas dia. Indonesia tidak anti asing dan sangat membutuhkan investor asing untuk turut serta membangun industri perikanan di Indonesia.
Selama ini produk ikan yang dihasilkan sekitar 90 persennya diekspor dalam bentuk bahan mentah. Ke depan, Indonesia akan memperkuat industri perikanan, sehingga yang diekspor adalah hasil perikanan yang memiliki nilai tambah. "Karena itu, saya mengajak dunia usaha Singapura untuk investasi di Indonesia untuk membangun cool storage, membangun pabrik-pabrik pengolahan ikan, tapi tidak boleh melakukan penangkapan ikan," tegas Susi lagi.
Ratusan peserta hadir dan antusias mendengarkan pemaparan Susi. Beberapa peserta berkesempatan mengajukan pertanyaan. Beberapa peserta menanyakan mengenai apa yang akan dilakukan Susi ke depan lebih detil. Namun, ada juga yang tertarik dengan penggantian Menko Maritim dari Indroyono Soesilo kepada Rizal Ramli, si Rajawali Ngepret.
Susi menjawab dengan sangat hati-hati. Bagi dia, baik Indroyono maupun Rizal Ramli merupakan orang hebat dan profesional. "Saya bisa bekerja sama dengan keduanya," jawab Susi. Hingga saat ini dia belum pernah melakukan rapat dengan Rizal Ramli, karena selama sejak pelantikan Rizal Ramli, dia meninggalkan Indonesia dan terbang ke Eropa untuk urusan dinas. "Tapi saya yakin saya bisa bekerja sama dengan lebih baik," ujar Susi.
(asy/rrd)











































