Kementerian Pertanian (Kementan) berpendapat bahwa penguatan dolar Amerika Serikat (AS) saat ini yang sempat tembus Rp 14.000/US$, sebenarnya merupakan kesempatan bagi petani kedelai lokal untuk merebut pasar yang selama ini dikuasai oleh kedelai impor. Sebab, harga kedelai impor ikut melonjak mengikuti penguatan dolar AS.
Apalagi, saat ini di dalam negeri sedang puncak panen kedelai. Pasokan kedelai lokal yang melimpah bisa menutup sebagian besar kebutuhan nasional.
"Produksi kedelai sekarang sedang puncak panen, bagus ini. Jadi ini momen bagus juga untuk petani kedelai, kedelai impor mahal, kita lagi panen raya. Mudah-mudahan bisa membantu petani," kata Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring, saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dengan mahalnya kedelai impor, kita harapkan petani kedelai kita lebih senang. Harga kedelai lokal kita bisa ikut terdongkrak, bisa membantu petani kedelai," ucapnya.
Dia mengungkapkan, kerugian petani kedelai akibat kejatuhan harga ini sangat besar. Biaya yang dikeluarkan petani untuk menanam kedelai mencapai Rp 7.000/kg, sementara harga jualnya saat ini di bawah Rp 6.000/kg. "Petani kedelai pasti rugi. BEP-nya (Break Event Point) itu sekitar Rp 7.000/kg," katanya
Untuk mendongkrak harga di tingkat petani, pihaknya telah mengusulkan kepada Kementerian Perdagangan (Kemendag) agar menaikkan Harga Beli Petani (HBP) kedelai yang ditetapkan melalui Permendag menjadi Rp 8.000/kg. Saat ini, HBP kedelai masih Rp 7.700/kg.
"Ibu Dirjen PDN (Perdagangan Dalam Negeri) Kemendag sudah memberikan surat, HBP kedelai sampai akhir September Rp 7.700/kg. Kita mengajukan HBP Rp 8.000/kg," cetusnya.
Tahun ini, berdasarkan Angka Ramalan I dari Badan Pusat Statistik (BPS) produksi kedelai mencapai 998 ribu ton, naik 5 persen dibanding tahun lalu. Namun, kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,3 juta ton, sehingga Indonesia masih harus mengimpor 1,4 juta ton kedelai tahun ini. "Untuk meningkatkan produksi kedelai, kuncinya di harga," pungkas Hasil.
(rrd/rrd)











































