Ini Penyebab RI Sulit Capai Swasembada Kedelai

Ini Penyebab RI Sulit Capai Swasembada Kedelai

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 27 Agu 2015 19:21 WIB
Ini Penyebab RI Sulit Capai Swasembada Kedelai
Jakarta - Indonesia pernah mencapai swasembada kedelai pada 1992 atau 23 tahun lalu. Untuk kembali bisa swasembada bukan jalan yang mudah, karena para petani lebih memilih menanam padi daripada kedelai, karena keuntungannya jauh lebih banyak.

"Kalau (harga kedelai petani) Rp 5.000/kg itu dengan rata-rata produktivitas kita 1,5 ton/hektar kan Rp 7,5 juta untuk 2-3 bulan. Terlalu rendah dibanding padi, padi katakanlah 4 bulan hasilnya 7 ton/hektar x Rp 4.000/kg (harga beras) sudah Rp 28 juta, jadi orang malas nanam kedelai," ujar Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring, saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/8/2015).

Hal inilah yang menyebabkan para petani enggan menanam kedelai. Alasannya, harga kedelai terlalu rendah, bahkan di bawah biaya produksi. Biaya yang dikeluarkan petani untuk menanam kedelai mencapai Rp 7.000/kg, sementara harga jualnya saat ini di bawah Rp 6.000/kg.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Petani kedelai pasti rugi. BEP-nya (Break Event Point) itu sekitar Rp 7.000/kg," katanya.

Gara-gara petani tak mau menanam kedelai, kini Indonesia tergantung pada kedelai impor. Tahun ini, berdasarkan Angka Ramalan I dari Badan Pusat Statistik (BPS) produksi kedelai diperkirakan 998 ribu ton, naik 5 persen dibanding tahun lalu. Namun, kebutuhan kedelai nasional mencapai 2,3 juta ton, sehingga Indonesia masih harus mengimpor 1,4 juta ton kedelai.

Seperti diketahui, Indonesia sebenarnya sudah pernah mencapai swasembada kedelai, tepatnya pada tahun 1992 alias 23 tahun lalu. Saat itu, luas panen kedelai di seluruh Indonesia mencapai 1,889 juta hektar sehingga produksi melimpah.

"Pada 1992 luas panen kedelai pernah sampai 1,889 juta hektar. Waktu itu nggak ada impor," kata Hasil.

Namun, luas lahan kedelai terus menurun setelah itu. Bahkan kini luas panen kedelai tinggal sekitar 600 ribu hektar atau tinggal sepertiga luas panen pada 23 tahun silam. Akibatnya Indonesia tergantung pada kedelai impor.

"Selama 23 tahun sejak 1992 itu luas panen kedelai kita terus berkurang. Sekarang luas panen kedelai kita cuma 600.000-700.000 hektar," ujar Hasil.

(rrd/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads