Tingginya harga daging sapi masih terjadi, padahal Kementerian Pertanian telah meminta para feedloter atau pengusaha penggemukan sapi untuk menurunkan harga daging sapi bobot hidup.
"Pemerintah memberi penugasan Bulog untuk impor daging sapi segar dan sapi bakalan. Dalam waktu dekat, mungkin bisa minggu ini. Daging sapi segar dalam minggu ini. Tujuannya untuk menetralisir harga daging," kata Direktur Keuangan Perum Bulog Iryanto Hutagaol usai rapat di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kamis (27/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Impor daging ini hanya bersifat sementara untuk menurunkan harga daging di pasar. "Impor daging hanya untuk memenuhi kebutuhan daging masyarakat dengan harga normal. Bukan untuk selamanya. Harga sekarang masih tinggi. Di feedloter memang ada sapi, tapi di pedagang yang nggak ada," kata Iryanto.
Iryanto mengatakan Bulog siap menggelontorkan dana hingga US$ 40 juta terkait rencana impor tambahan 10.000 ton daging beku. "Dananya kami sudah siapkan untuk beli daging dari Australia dan New Zealand. Kita Lagi seleksi. Kita siapkan kalau rata-rata harga daging segar saat ini US$3,5- US$4/kg daging segar kalau 10.000 ton berarti US$ 40 juta dolar," jelas Iryanto.
Ia menegaskan Bulog tidak pernah kekurangan dana dan menyiagakan dana Rp 3 Triliun dari tambahan dana Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun ini. "Bulog tidak pernah kekurangan duit. Kan ada tambahan PMN Rp 3 Triliun," tambahnya.
Iryanto melanjutkan, rencana daging segar ini akan dijual dengan cara operasi pasar (OP) dan ke lapak pedagang daging sapi. "Nanti dijual bisa lewat OP dan melalui lapak-lapak pedagang pasar. Kita pasok," imbuhnya.
Daging beku impor yang didatangkan Bulog sudah sebagian masuk. "Sudah masuk 200-300 ton daging. Ini masuk ada termin-terminnya. Sampai akhir tahun ini rencana memasukkan 700 ton. Izin yang pertama 1.000 ton kan. Lalu diberi penugasan lagi 10.000 ton," ujar Iryanto.
Langkah pemerintah menambah kuota penugasan impor daging oleh Bulog, Iryanto menegaskan kembali yaitu untuk menjaga harga dan memenuhi kebutuhan daging masyarakat.
"Iya memang belum habis kuota yang 1.000 ton. Tapi ini karena kebutuhan menjaga stabilisasi harga," pungkasnya.
(hen/hen)











































