Hingga Agustus, Penyaluran Benih Subsidi ke Petani Baru 6%

Hingga Agustus, Penyaluran Benih Subsidi ke Petani Baru 6%

Michael Agustinus - detikFinance
Kamis, 27 Agu 2015 21:44 WIB
Hingga Agustus, Penyaluran Benih Subsidi ke Petani Baru 6%
Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menuturkan bahwa penyaluran benih subsidi masih sangat minim. Hingga pertengahan Agustus, realisasi penyaluran benih subsidi baru sekitar 6%.

Tahun ini pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 939,4 miliar untuk benih subsidi. Dana ini akan digunakan untuk subsidi benih padi inbrida sebanyak 98.500 ton dengan luas areal 3,9 juta hektar, benih padi hibrida 1.500 ton untuk lahan 100 ribu hektar. Juga untuk 1.500 ton benih jagung hibrida dengan luas lahan 100 ribu hektar dan 15 ribu ton benih kedelai untuk lahan 300 ribu hektar.

Dengan adanya benih subsidi, biaya produksi yang ditanggung petani bisa ditekan sehingga penghasilannya bertambah. Sebagai gambaran, petani hanya membeli benih padi inbrida yang disubsidi seharga Rp 3.050/kg, padahal harga benih padi inbrida di pasar bebas mencapai kisaran Rp 9.000/kg.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk pengadaan dan penyaluran benih subsidi, pemerintah telah menunjuk PT Sang Hyang Seri (SHS) dan PT Pertani (Persero). Kedua ditunjuk langsung dengan Perpres Nomor 172 Tahun 2015.

Penunjukan langsung bertujuan agar pengadaan dan penyaluran benih bisa lebih cepat realisasinya, tiba tepat pada waktu memasuki masa tanam. Sayangnya, penunjukan langsung ini belum terlihat manfaatnya.

"Saya lihat memang penyalurannya relatif rendah, baru 6% sampai Agustus ini," kata Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring, saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/8/2015).

Hasil beralasan, penyaluran benih subsidi masih rendah karena dinas-dinas pertanian di daerah lebih memilih untuk merealisasikan bantuan benih gratis terlebih dahulu. "Tapi ini karena orang lebih memilih mengambil bantuan benih gratis dulu, kalau ini (benih subsidi) kan beli," tuturnya.

Realisasi penyaluran benih subsidi, sambungnya, akan meningkat pesat pada Oktober sampai Desember saat memasuki musim rendeng (masa tanam di musim hujan). "Realisasi akan naik saat musim tanam di Oktober sampai Desember. Bantuan pemerintah (pada Oktober-Desember) hanya dari benih subsidi saja karena bantuan benih gratis sudah habis," ucapnya.

Diakuinya ada masalah lain yang menyebabkan penyaluran benih bersubsidi macet. SHS dan Pertani yang ditunjuk sebagai penyalur benih tidak dipercaya oleh para petani dan dinas-dinas pertanian di daerah. Sebab, pada tahun-tahun sebelumnya, penangkar benih di daerah sering tidak dibayar, benih datang terlambat, dan kualitas benih buruk.

"Kepercayaan kepada teman-teman BUMN perbenihan relatif sudah pudar karena banyak masalah di tahun-tahun sebelumnya. Bahkan ada beberapa provinsi yang menolak benih subsidi," katanya.

Hasil mengaku khawatir melihat kinerja kedua BUMN ini dalam menyalurkan benih bersubsidi. Bila realisasi penyaluran rendah, anggaran untuk subsidi benih pada tahun depan akan dikurangi. Karena itu, dirinya berharap realisasi penyaluran benih subsidi bisa digenjot di akhir tahun.

"BPK menyatakan penetapan anggaran harus melihat penyerapan tahun sebelumnya. Tahun depan anggarannya bisa jadi rendah kalau realisasinya rendah," pungkasnya.

(rrd/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads