Di atas kertas, dengan perkiraan produksi beras tahun ini 43 juta ton dan konsumsi 32 juta ton, maka Kementan memperhitungkan ada surplus beras 11 juta ton tahun ini. Dengan surplus sebesar itu, harusnya target Bulog dapat dikejar.
"Usaha dulu, jangan menyerah dulu. Kita sudah dorong percepatan (pengadaan beras Bulog). Surplus beras panen Januari-Desember ini ada 11 juta ton," kata Dirjen Tanaman Pangan Kementan, Hasil Sembiring, saat ditemui di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (27/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski produksi beras mulai Oktober nanti sudah di bawah angka konsumsi per bulan, Hasil masih optimis Bulog bisa mendapatkan beras cukup untuk stok di gudangnya.
"Neraca beras memang mulai negatif mulai bulan Oktober, tapi bukan berarti tidak ada produksi, ada sekitar 1-2 juta-an ton setiap bulan," ujarnya.
Berdasarkan data Kementan, produksi beras pada Oktober diperkirakan 2,16 juta ton, kemudian 1,77 juta ton pada November, dan 2,26 juta ton di Desember. Dengan perhitungan konsumsi beras masyarakat per bulan 2,67 juta ton, maka pada Oktober neraca beras minus 509 ribu ton, minus 892 ribu ton pada November, dan minus 407 ribu ton di Desember.
Seperti diketahui, pengadaan beras yang dilakukan oleh Perum Bulog hingga pertengahan Agustus baru 1,85 juta ton. Jika ditambah dengan pengadaan dari beras komersial pun total pengadaan Bulog baru sekitar 2 juta ton, masih jauh dari target pengadaan tahun ini yang mencapai 3,2 juta ton. Sedangkan stok beras Bulog saat ini sekitar 1,6 juta ton atau setara dengan kebutuhan untuk 6-7 bulan penyaluran.
(rrd/rrd)











































