Ekspor telur tetas ayam induk ini merupakan yang pertama semenjak Indonesia terserang Aviant Influenza (AI) alias flu burung pada 2004 lalu. Japfa Comfeed telah menandatangani kontrak ekspor ke Myanmar hingga 2017.
"Ini merupakan kegiatan bisnis yang dilakukan Japfa Comfeed dengan mitra bisnisnya di Myanmar," kata Dirjen Peternakan dan Kesehatan Kementan, Muladno Bashar, saat konferensi pers di Kementan, Jakarta, Jumat (28/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini inisiatif swasta, pemerintah memfasilitasi kegiatan tersebut," ucapnya.
Pemerintah Myanmar datang ke Indonesia pada 1 Juli 2015 lalu untuk mempelajari langsung sistem manajemen penanggulangan flu burung di Indonesia.
Delegasi yang dipimpin Deputy Minister of Livestock and Rural Development Myanmar, Aunt Myatt Oo, mengakui keberhasilan Indonesia dalam menangani flu burung dan akhirnya membolehkan telur tetas ayam Indonesia masuk ke negaranya.
"Sebelumnya ada aturan di Myanmar yang melarang impor HE dari negara yang belum bebas Aviant Influenza (AI). Tapi kita jelaskan bahwa Indonesia berhasil mengatasi AI walau dgn vaksin. Mereka menerima, akhirnya aturan di sana direvisi sehingga Myanmar mau menerima HE dari Indonesia," Muladno menuturkan.
Ke depan, pihaknya akan mendorong lebih banyak perusahaan Indonesia yang mengekspor unggas. Pemerintah akan membantu dari sisi regulasi.
"Regulasi-regulasi yang menghambat, meningkatkan biaya, menyulitkan hubungan kerjasama antar negara kita permudah. Kami bertekat memudahkan semuanya sepanjang itu memberikan manfaat kepada masyarakat," katanya.
Sebagai informasi, potensi produksi DOC Final Stok ayam pedaging Indonesia tahun ini mencapai 3,3 miliar ekor. Sedangkan kebutuhan DOC Final Stokk di dalam negeri hanya 2,44 miliar ekor.
Melimpahnya surplus ayam di dalam negeri ini membuat peternak ayam di dalam negeri merugi dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, pemerintah berupaya mendorong ekspor ayam untuk menyeimbangkan suplai dan kebutuhan di dalam negeri.
(hen/hen)











































