"Perawat kan masih nol di Korsel. Makanya kita buka 500-1.000 perawat tahun ini dan 8.000 sektor manufaktur," ujar Nusron, saat berbincang dengan wartawan di Seoul, Korea Selatan, Jumat (28/8/2015).
Nusron mengatakan, perawat-perawat Indonesia termasuk kompetitif dibanding perawat negara lainnya. Bahkan negara seperti Arab Saudi, Australia, Belanda, dan Amerika Serikat mengaku puas dengan pelayanan perawat Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dirinya juga selama berada di Korsel telah melakukan pertemuan dan melobi pihak Komisi Kesehatan di negeri Ginseng ini, untuk memuluskan penambahan kuota tenaga kerja, khususnya perawat di Korsel.
Sebelumnya, JK meminta kepada Hwang Ahn untuk menambah kuota penerimaan tenaga kerja terampil asal Indonesia.
"Di samping itu juga saya harapkan agar kuota pekerja Indonesia ke Korsel yang sekarang 50 ribu dapat ditingkatkan, termasuk perawat-perawat perlu segera mempertimbangkan dengan membicarakan dengan masing-masing kementeriannya," ujar JK.
JK menggambarkan, tenaga kerja Indonesia yang berada di Korsel, Jepang, dan Hong Kong masih jauh lebih baik kondisinya daripada negara-negara lainnya. Upah minimum yang didapatkan pekerja Indonesia di Korsel mencapai US$ 1.000 per bulan.
"Dan itu dijamin secara hukum dan dijamin juga penginapan dan makannya, sehingga US$ 1.000 kan bagus. Tapi memang harus skill worker, seperti operator mesin, dan itu setelah kerja di sini bagus untuk kerja dalam negeri," ucapnya.
(fiq/dnl)











































