Pembangunan jaringan kereta ke area terminal kontainer untuk memangkas waktu bongkar muat atau dwell time khususnya post customs clearance. Pelabuhan Tanjung Priok telah tersambung kereta pada pertengahan 2016.
"Kita harapkan tahun itu (2016). Sekarang KAI sedang selesaikan persoalan lahan," kata Direktur KAI Edi Sukmoro di Kantor Pusat Pertamina, Jakarta, Jumat (28/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ke dalamnya sampai Priok tanah bukan punya Pelindo II. Itu tanahnya PU dan Perumahan Rakyat. Nah, kemarin kita sudah komunikasi ke Menteri PU PR," sebutnya.
Edi mengakui persoalan lahan sebagai kendala utama dalam pembangunan jaringan ke pelabuhan. Sedangkan, proses konstruksi bisa dilakukan lebih cepat. Bila tanah di dalam dan luar pelabuhan sudah beres status kepemilikannya, KAI bisa memulai proses konstruksi.
"Selesai garap paling hanya 6 bulan," jelasnya.
Jaringan kereta dinilai sangat membantu mobilitas barang di dalam atau ke luar pelabuhan. Daya angkut lebih besar dan lebih cepat daripada menggunakan truk. Selain itu, angkutan kereta membantu mengurangi dampak kerusakan jalan dan kecelakaan akibat menurunnya lalu lintas angkutan barang di jalan raya.
"Sekarang bisa langsung ke Priok. Ini akan menolong masalah handling. Dengan masuk kesitu, angkutan peti kemas biayanya bisa lebih murah," katanya.
Seperti diketahui jaringan rel kereta api logistik/kontainer yang menghubungkan antara Pelabuhan Tanjung Priok dengan Pelabuhan Peti Kemas hingga Tempat Penampungan Khusus (TPK) Koja, Jakarta Utara telah ada. Rel ini telah lama mati dan tidak digunakan untuk pengangkutan kereta api logistik, namun masih terputus alias belum sampai ke dalam pelabuhan.
(feb/hen)











































