Dalam kesempatan itu, Basuki menyampaikan betapa pentingnya melakukan pengelolaan sumber daya air yang baik dan tepat guna.
"Mengelola sungai itu jauh lebih sulit daripada mengelola minyak bumi," tutur Basuki dalam keterangan tertulisnya, Jumat (29/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, pola perilaku masyarakat sudah mulai berubah sehingga menuntut upaya penyelamatan dan pelestarian sumberdaya air dilakukan dengan usaha yang ekstra besar. Untuk itu, dirinya sangat menghargai kesempatan diskusi interaktif yang juga dihadiri bupati dan wakil bupati Banjarnegara tersebut.
"Ini ajang yang baik bagi kita untuk saling bertukar pikiran, mengingat tantangan pelaksanaan pengelolaan sumber daya air (SDA) ke depan akan semakin menuntut perhatian khusus karena dinamika masyarakat yang semakin meningkat dan kondisi alam yang memerlukan perhatian kita semua," sambung Basuki.
Basuki menyatakan, komunitas sungai merupakan mitra penting bagi Kementerian PUPR yang dia pimpin. Karenanya, menteri Basuki mengajak komunitas sungai dan stakeholder yang lain, bersama sama mengelola sungai dengan baik. Ia pun meminta kongres jangan hanya menghasilkan rekomendasi saja tapi harus membuahkan langkah nyata yang bisa dijadikan contoh bagaimana mengelola sungsi yang ramah lingkungan.
Atas dasar itu Menteri Basuki menawarkan kepada komunitas sungai untuk menyusun pilot project pengelolaan sumber daya air (SDA) sungai yang memberikan manfaat besar bagi masyarakat. "Silahkan ajukan satu atau dua program, nanti saya bawa untuk dianggarkan di 2016," katanya.
Kongres Sungai Indonesia (KSI) 2015 sendiri digelar 26-30 Agustus, dibuka secara resmi oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani. Hadir dalam kesempatan itu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Banjarnegara Tedjo Slamet Utomo, serta ketua konggres Eva Sundari. Acara pembukaan berlangsung di halaman Balai Budaya Selamanik, Rabu (26/8/2015) lalu.
(dna/rrd)











































