Tahun 2045, Pusat Ekonomi Dunia Bukan Lagi di AS Tapi Asia

Tahun 2045, Pusat Ekonomi Dunia Bukan Lagi di AS Tapi Asia

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Senin, 31 Agu 2015 11:24 WIB
Tahun 2045, Pusat Ekonomi Dunia Bukan Lagi di AS Tapi Asia
Jakarta - Perekonomian dunia saat ini sangat bergantung pada pergerakan ekonomi Amerika Serikat (AS). Kondisi di AS menentukan situasi ekonomi negara lainnya di dunia, khususnya negara-negara emerging market termasuk Indonesia.

Namun di 2045, diperkirakan pusat ekonomi akan bergerak ke Asia, seperti China, India, Korea Selatan, dan Jepang, bukan lagi di AS. Hal ini karena kawasan Asia terbantu oleh bonus geografi atau dividen geografi.

"Kita terbantu dengan bonus geografi atau dividen geografi. Di periode 2015-2045, pusat ekonomi global tidak lagi di AS tapi geser ke Asia seperti China, India, korsel, Jepang, nah Indonesia ada di tengah-tengah, jadi ini akan ada pengaruhnya," ujar Begawan Ekonomi, Prof. Dr. Subroto, saat acara seminar dan peluncuran buku Mozaik Demografi oleh Lembaga Demografi FEB UI, di Graha Bimasena, Hotel Darmawangsa, Jakarta, Senin (31/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Subroto yang juga pernah menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi, Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi di era Presiden Soeharto ini menjelaskan, berbagai bonus yang dimiliki negara-negara di Asia akan membantu mengembangkan ekonomi dalam beberapa tahun ke depan.

Selain bonus geografi, negara-negara Asia juga memiliki bonus demografi atau dividen demografi.

Dalam kurun waktu 2015-2050, perkembangan penduduk di Asia akan lebih meningkat, yang produktif akan lebih besar dibandingkan yang tidak produktif.

"Ini potensi. Jadi tingkatkan enterpreneurship. Selain itu, ilmu pengetahuan juga penting. Knowledge is power," kata mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) ini.

Terkait hal itu, Subroto mengatakan, Indonesia harus bisa mencapai kesejahteraan secara sempurna di 2045. "Kita harus mencapai Indonesia Raya sejahtera pada tahun 2045, bertepatan dengan 100 tahun Indonesia merdeka," ucap dia.

Subroto menyebutkan, setidaknya ada beberapa mesin pembangunan yang harus dipakai untuk bisa mencapai Indonesia Raya Sejahtera di 2045, yaitu pembangunan infrastruktur, SDA, SDM, dan knowledge atau ilmu pengetahuan.

"Kita baru pakai mesin SDA yaitu batu bara, minyak, dan lain-lain. Pada waktu yang kita dambakan yaitu SDA turun harganya, bagaimana mencapai kemerdekaan di 2045, bersama-sama pakai mesin-mesin itu. SDA sudah jelek, carilah SDA yang lain. Dengan 4 mesin itu Insya Allah kita bisa mencapai Indonesia Raya Sejahtera di 2045," jelas dia.

Subroto menambahkan, tidak ada alasan bagi Indonesia untuk tidak bisa sejahtera. Semua bisa dicapai dengan kerja sama dari berbagai pihak.

"Jadi sedih, susah, bangsa kita mau ke mana, korupsi sudah nggak karu-karuan, tidak, kita harus menatap ke depan. Jadi membuat pembangunan jangka panjang sampai 2045. Malaysia punya slogan 2020 berjaya. Itu tukang ojek, sopir taksi tahu apa itu 2020, jadi kita juga 2045 ada Indonesia Raya Sejahtera, semoga pertumbuhan kita berjalan dengan baik," pungkasnya.

(drk/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads