Direktur Utama PT Nagata Prima Tuna Banda Aceh, Almer Hafiz mengatakan, perusahaan miliknya bergerak dalam ekspor ikan tuna ke tiga negara yakni Amerika Serikat, Jepang, dan Korea Selatan. Ikan tuna ini dibeli dari nelayan lokal dan dikirim ke luar negeri dalam kurun waktu satu sampai tiga bulan sekali.
"Kontrak kita dalam sistem ekspor ini yaitu pembayarannya menggunakan dolar. Kalau sekarang harga dolar naik, tentu kita sedikit lebih untung," kata Almer kepada wartawan di Banda Aceh, Senin (31/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kondisi seperti sekarang ini sangat memberikan keuntungan bagi nelayan yang mencari tuna," jelasnya.
Tapi yang menjadi kendala sekarang, jelasnya, nelayan di Aceh masih memiliki sejumlah keterbatasan. Hal ini mengakibatkan hasil tangkapan tidak banyak.
Akibatnya, pihaknya tidak dapat mengekspor tuna ke luar negeri setiap hari. Pihaknya hanya mengirim ikan tuna yang telah diolah itu dalam kurun waktu satu hingga tiga bulan sekali.
"Setiap hari kami menampung ikan tuna tiga ton dari nelayan. Tapi setelah kami lakukan proses pembersihan dan pengolahan menjadi daging layak ekspor, jumlahnya berkurang hingga 50 persen," ungkap Almer.
Ia mengungkapkan, ikan tuna grade A dikirim langsung ke Jepang dengan jumlah sekitar 250 kilogram lebih. Sementara grade B dan C diekspor ke Korea dan Amerika dengan jumlah mencapai 10 ton.
"Kita mendapat kuota ekspor berbeda-beda. Ke Jepang itu tuna yang kita kirim harus kualitas paling bagus dan bisa dimakan langsung," kata Almer.
(rrd/rrd)











































