Hal ini untuk mendukung target swasembada pangan khususnya 3 komoditas utama yaitu padi, jagung dan kedelai yang dideadline Presiden Jokowi harus tercapai dalam 3 tahun.
Selain itu, TNI AD juga kerap dilibatkan dalam distribusi alat mesin pertanian (alsintan) ke untuk mempercepat bantuan alat tiba ke daerah-daerah yang sulit dijangkau.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Babinsa itu betul-betul turun ke sawah ikut macul, bahkan sampai bikin posko dari tenda di dekat wasah, bisa dilihat sendiri ke daerah,” kata Sumardjo Gatot Irianto, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Koordinator Upaya Khusus Swasembada Padi, Jagung, Kedelai, kepada detikFinance pekan lalu.
Gatot mencontohkan, masalah kekeringan di kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (NTT) bulan Juli lalu diatasi dengan pengeboran 1000 sumur dangkal yang dibantu personil TNI.
“Tanpa air, produktivitas ngga bagus. Air dan pupuk perannya 75% terhadap produktivitas,” tambahnya.
TNI AD punya perlengkapan lengkap untuk mendistribusikan bantuan, melakukan pembangunan fisik, termasuk peralatan bertani.
Selain itu, menurut Gatot, TNI AD dapat dipercaya karena strukturnya yang satu komando. Sudah tidak bisa hanya mengandalkan para kepala dinas dan bupati.
“TNI kan satu perintah dari atas. Kalau kadis terantung bupati, bupati jabatan politis. kalau TNI, ngga tergantung dengan siapa-siapa, satu kesatuan dan punya satu komando. Dandimnya bisa ngingetin terus. Kami terus koordinasi dengan TNI baik di pusat hingga para dandim di daerah,” ujar Gatot.
Terkait irigasi, Gatot menyebut sudah diperbaiki 80% jaringan irigasi tersier yang rusak yaitu seluas 1,3 juta hektar sudah selesai perbaikan dari target rehab 1,7 juta hektar irigasi tersier. Menurut Gatot, ini tidak lepas dari peran TNI AD.
Data Kementerian Pertanian, Januari-Agustus luas panen padi yaitu 10.931.346 hektar 100% sudah produksi sebanyak 58,46 juta ton gabah atau 76,37% dari total luas panen.
Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi dalam Angka Ramalan (ARAM-I) 2015, Indonesia akan meraih surplus beras 5 juta ton tahun ini.
Menurut data BPS, produksi beras Angka Tetap (ATAP) BPS 2014 sebanyak 70,85 juta ton gabah kering giling (GKG) sementara diprediksi produksi menurut Angka Ramalan (ARAM I) BPS 2015 mencapai 75,55 juta ton GKG atau jika dikonversi ke beras menjadi 47 juta ton Kementerian Pertanian membentuk tim upaya khusus (Upsus) yang berfokus padi, jagung dan kedelai (Pajale).
(hen/hen)











































