“Alat canggih untuk mendukung mekanisasi seperti traktor, pompa air, combine harvester, dan transplanter. Dengan mekanisasi, yang jelas sekarang pekerjaan petani saat panen jadi lebih cepat, dulu losses tinggi sekarang kehilangan rendah. Pakai combine harvester, padi langsung jadi gabah, itu jauh mempermudah,” jelas Sumardjo Gatot Irianto, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian, Koordinator Upaya Khusus Swasembada Padi, Jagung, Kedelai, kepada detikFinance pekan lalu.
Gatot menjelaskan, di setiap kunjungan Mentan Amran Sulaiman ke daerah, saat memberi bantuan alat disesuaikan dengan kondisi daerah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Gatot, dengan mekanisasi harapannya anak muda mau turun ke sawah untuk bertani.
“Pakai alat modern kan anak muda jadi mau turun ke sawah. Nggak repot, gampang, cepet, dan hemat. Ngga susah kaya petani zaman dulu,” ujar Gatot.
Program Upsus Pajale juga merekrut pendamping upsus dengan sebutan ‘Sahabat Petani’. Ratusan pemuda lulusan universitas yang punya fakultas pertanian seperti Institut Pertanian Bogor, Universitas Sebelas Maret Solo, Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Brawijaya Malang, Universitas Lampung, Universitas Hasanuddin dan lainnya.
Berdasarkan rencana alokasi APBN P 2015 sejumlah alat pertanian modern ‘diguyur’ oleh Kementerian Pertanian (Kementan):
- Rice transplanter : 1540 unit
- Combine harvester : 2.800 unit
- Power thresher : 1.500 unit
- Vertical dryer padi : 170 unit
- Corn celler : 2.312 unit
- Vertical dryer jagung : 209 unit











































