Berdasarkan berbagai sumber dan hasil analisa keekonomian kedua tawaran kereta cepat tersebut, tercatat beberapa perbedaan mendasar proyek kereta cepat, antara lain:
Jepang menawarkan biaya investasi proyek (capex) kereta cepat Shinkansen E5 hingga US$ 6,223 miliar, atau sekitar Rp 87 triliun. Ini lebih mahal dari China yang menawarkan kereta cepat CRH380A US$ 5,585 miliar, atau sekitar Rp 78 triliun. Sedangkan biaya operasional (opex) untuk kereta CRH relatif lebih mahal, yaitu US$ 103 juta, kalau untuk Shinkansen US$ 89 juta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan Financial Internal Rate of Return (FIRR) atau tingkat pengembalian, untuk tawaran China mencapai 5,92%, sedangkan Jepang mencapai 16,77%.
Dalam skema itu, pembiayaan yang ditawarkan China sebanyak 25% dari modal konsorsium yang mencakup konsorsium BUMN Indonesia dan konsorsium China. Sebanyak 75% merupakan pinjaman alias utang yang bunganya 2% per tahun untuk bentuk dolar, dan 3,46% per tahun dalam bentuk yuan.
Sedangkan dalam skema Jepang, rasio utang terhadap modal (DER) diperkirakan 85%, skema bunga pinjaman bank dalam bentuk pijaman yen bunganya 0,1% per tahun, sedangkan bila dalam bentuk rupiah bunganya 14% per tahun.
(hen/dnl)










































