'ABG Tua', Cara Pengusaha Kembangkan Potensi Buah dan Sayur RI

'ABG Tua', Cara Pengusaha Kembangkan Potensi Buah dan Sayur RI

Lani Pujiastuti - detikFinance
Selasa, 01 Sep 2015 16:40 WIB
ABG Tua, Cara Pengusaha Kembangkan Potensi Buah dan Sayur RI
Jakarta - Indonesia memiliki potensi buah dan sayuran berkualitas ekspor yang cukup besar. Namun sayangnya dukungan pemerintah masih dirasakan kurang oleh petani dan pengusaha dalam mendorong potensi tersebut.

"Saat ini petani bekerja sendiri, dukungan pemerintah masih kurang," kata Ketua Umum Asosiasi Eksportir Buah dan Sayuran Segar Indonesia (Aseibssindo) Kafi Kurnia, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR, membahas Rancangan Undang-Undang Karantina Buah, Ikan, dan Sayuran, Selasa (1/9/2015).

Kafi mengusulkan agar pemerintah menerapkan sistem ABG Tua, sehingga dapat mendorong potensi ekspor buah dan sayur petani.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Dengan ABG Tua, kita bisa mengembangkan buah dan sayuran Indonesia supaya bisa lebih banyak diekspor," kata Kafi.

Sontak, kata ABG Tua tersebut mengundang tawa kecil dan heran para anggota Komisi IV. Namun, Kafi menjelaskan lagi, bahwa ABG Tua merupakan akronim dari Akademisi, Bisnisman, Government, Teknokrat, Ulama atau Agamawan (ABGTUA).

"ABG Tua itu konsep pengembangan produk pertanian dengan menggabungkan antara akademisi orang pinter yang punya ilmu, bisnisman yang punya uang, government (pemerintah) yang punya kuasa, teknokrat menguasai teknologi dan ulama atau agamawan yang menjaga tataran etik biar nggak korupsi," jelas Kafi.

Kafi mencontohkan, pengembangan terintegrasi seperti buah pisang di Davao, Agentina. "Di Davao, Argentina, pisang itu dibuat kawasan tersendiri. hamparan areal hektaran dan alatnya lengkap. Jalan menuju kebun dari beton dan bisa dilintasi truk kontainer," tutur Kafi.

Indonesia, menurut Kafi bisa mencontoh Pisang Davao. "Kita bisa contoh pisang Davao. Begitu ditebas, masuk packing house. Packing house yang kelola Kadin. Fisik bangunan packing dibuat oleh pemerintah. Petani pisangnya dari KTNA. Bisa langsung kirim ekspor oleh eksportir. Surat-surat dan perijinan sebagainya tugas pemerintah. Kita butuh yang seperti itu. Bukan petani kerja sendiri seperti saat ini," jelas Kafi.

(rrd/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads