5 Usulan Ekonom ke Jokowi Supaya Ekonomi RI Tidak Krisis

5 Usulan Ekonom ke Jokowi Supaya Ekonomi RI Tidak Krisis

Lani Pujiastuti - detikFinance
Rabu, 02 Sep 2015 12:00 WIB
5 Usulan Ekonom ke Jokowi Supaya Ekonomi RI Tidak Krisis
Ilustrasi (Foto: Grandy/detikFoto)
Jakarta -

Melambatnya ekonomi RI di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global perlu direspons dengan kebijakan pemerintah yang cepat dan tepat. Langkah-langkah cepat diperlukan agar RI bisa terhindar dari jebakan krisis ekonomi 1998 dan kondisi ekonomi membaik.

Ekonom Didik J Rachbini punya sedikitnya 5 jurus yang bisa dilakukan pemerintah untuk memperbaiki kondisi ekonomi.

"Kondisi saat ini haru segera direspons dengan kebijakan yang cepat dan tepat. Ada 5 cara. Pertama, kondisi psikologis, politis harus dibenahi mulai dari presiden dan kabinet," kata Didik ditemui di kantor Indef, Selasa (2/9/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kedua, menurutnya, pemerintah perlu mengantisipasi fluktuasi kondisi ekonomi global supaya imbasnya tidak terlalu besar ke Indonesia.

"Ekonomi global saat ini mengalami anomali, fluktuasi, tidak ada kepastian. Minyak dulu harga US$ 100 per barrel jadi US$ 38 per barrel. Pemerintah harus bisa mengamati dan paham fluktuasi serta anomali. Harus paham krisis ekonomi global tapi tidak menyalah-nyalahkan kondisi ekonomi global," tuturnya.

Jurus ketiga, lanjut Didik, pemutusan hubungan kerja (PHK) merupakan pertanda industri sudah merasa berat dengan kondisi saat ini. Sebaiknya pemerintah meminimalisir PHK di dalam negeri.

"Jangan sekali-kali biarkan PHK terus terjadi. Di Jerman Barat, atasi kondisi krisis ada BUMN bangkrut silakan ambil tanahnya, asetnya, tapi jangan lakukan pemutusan hubungan kerja. satu kuartal ini pengangguran nambah 300.000 orang. Ini pertanda industri sudah berat," tambahnya.

Keempat, Ia melihat RI perlu mengarahkan pembangunan industri pengolahan agar tidak lagi ekspor bahan mentah.

"Ekspor berbasis sumber daya alam kita separuhnya masih berupa bahan mentah seperti komoditas sawit dan karet, itu harus diperbaiki industrinya. Krisis sumbernya dari industri. Harga komoditas semua merosot. Separuh ekspor komoditas kita berupa bahan mentah. Ekspor kita persis seperti kondisi ekonomi 2008," tuturnya.

Terakhir, Didik menegaskan pemerintah harus bisa memangkas impor yang tidak perlu. "Kelima, pangkas impor yang tidak ada gunanya. Kosmetik yang berbahaya, mainan anak mengandung racun, itu pangkas," pungkasnya.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads