Pihak pembuat monorel asal Tambun, Bekasi, Jawa Barat, PT Melu Bangun Wiweka (MBW) angkat bicara soal rencana proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.
Manajer Umum PT Melu Bangun Wiweka (MBW) Indra Nugraha Kusnan berpendapat kereta cepat Jakarta-Bandung belum jadi prioritas. Alasannya masih banyak alternatif transportasi Jakarta-Bandung dan sebaliknya.
"Jakarta-Bandung kan masih ada kereta biasa, bus, dan lainnya," kata Indra saat dihubungi detikFinance, Rabu (2/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebetulnya kami sudah menguasai teknologi monorel dan siap membangun. Kami sepenuhnya memakai teknologi dari dalam negeri melalui berbagai referensi. Kita kumpulkan referensi dari mana saja, ada Jepang, Malaysia, Kanada, AS mereka punya Bombardier, dan Swiss. Lalu kami pelajari mana yang cocok dan paling baik. Kami juga ajak kerjasama kembangkan teknologi UI," katanya.
Ia bahkan menyebut, dari sisi keamanan dan ketahanan beban kereta, monorel 'made in Bekasi' berani diuji. "Kesiapan teknologi kereta monorel dilihat dari dua unsur yaitu memenuhi unsur keselamatan penumpang supaya aman dan ketahanannya membawa beban. Kami sudah siap semua itu," katanya.
Tidak hanya aspek kesiapan para insinyur, tetapi dari segi penyediaan komponen kereta dari dalam negeri, Indra sudah menghitung monorel buatan Bekasi bisa mencapai skor Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dihitung sudah mencapai 50%.
"TKDN kami hitung bisa 50%. Indonesia bisa buat beberapa komponen sendiri seperti desain body, sistem suspensi dan gerbong itu bisa lokal. Teknologi di body sudah bisa buat yang kaku dan kuat. Kita belajar dari Jepang. Dari segi bentuk, monorel rencananya kayak Jepang. Monorel cocok untuk menghubungkan Jakarta-Bogor atau Jakarta-Bekasi," tuturnya.
Di tengah sempitnya ruang di Jakarta, monorel pun unggul. "Monorel itu keunggulannya di Jakarta, kan ruang di sini sempit-sempit. Monorel itu desainnya ramping dan bisa menanjak sampai 6%," tambahnya.
Kemudian dari segi tenaga kerja, monorel siap pakai tenaga kerja lokal. "Bisa kami pakai tenaga ahli dan pekerja lokal. Kereta cepat yang rencananya dari Jepang atau China sebetulnya kita sendiri bisa pelajari teknologinya. Sudah dipelajari dan bisa kita kuasai. Hanya sepertinya pemerintah belum berani garap sendiri," pungkasnya.
(hen/hen)










































