Persaingan produk dengan kompetitor menjadi tantangan yang dihadapi setiap pengusaha. 'Perang merek' pun kerap ditemui. Setiap pengusaha ingin produknya dikenal, hingga merek dan logonya pun dihapal konsumen. Sebaliknya, tidak adanya logo atau merek pada produk dan jasa, ibarat bayi lahir tanpa nama.
"Merek dan logo itu ibarat nama seseorang. Punya arti dan makna sesuai seperti apa yang diinginkan oleh pembuatnya. Logo sendiri sebagai representasi atau simbol yang akan diingat oleh konsumen yang melihat," kata Alex Mulya, konsultan branding dan pemasaran, sekaligus CEO Axia World, ditemui pada acara IPB Investment Summit, di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (3/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, menurut Alex, merek sebuah produk harus dibuat dengan kuat dan melekat. "Mereklah yang nantinya akan menghasilkan untung kita. Kalau anda investasi Rp 5 miliar untuk membangun merek jangan dianggap banyak. Walaupun merek yang sudah terkenal mungkin cukup 1 Rp miliar dampaknya sudah besar. Dana ini ibarat investasi menanamkan merek dan logo di benak konsumen," jelasnya.
Kemudian Alex mencontohkan beberapa produk yang merek dan logonya berhasil melekat di benak konsumen atau punya brand equity. "Misal iPhone, bagi para penggunanya mungkin merasa kemahalan. Itulah kekuatan merek hanya lewat logo dan merek. Coca-Cola, mereknya saja harganya bisa sampai Rp 600 triliun. Dengar Ferrari, langsung terbesit mobil mahal," ujarnya.
Contoh lain, ia sebutkan seperti Starbucks. "Kalau sebuah mal tidak ada starbucks, akan masuk kelas dua atau kelas tiga. Pihak mal sampai memotong biaya 1/3 kalau Starbucks mau buka gerai di mal-nya. Begitu kuatnya image kafe kopi ini," katanya.
Β
Citra atau image, kata Alex, harus disusun jelas seperti apa konsumen ingin melihat produknya. "Ibarat dokter, sebelum memberi obat, pasien perlu dites darah untuk mengetahui penyakitnya. Sama halnya dengan konsumen, sebelum susun strategi apapun, perlu diteliti dulu kebutuhan dan preferensinya," ujar Alec.
Ketiga, lanjut Alex, membuat brand produk tujuannya tidak hanya terkenal, tapi menjelaskan yang akan didapat dari merek tersebut dibanding produk kompetitor. "Misalnya sama-sama sabun, tetapi apa poin keunggulan yang akan diingat dibanding kompetitor lain," lanjutnya.
Strategi pemasaran pun berbeda-beda menurut jenis produknya. Ada strategi above the line (di permukaan) dan under the line (bawah tanah).
"Misalnya produk dengan high emotion seperti pakaian 80% strateginya above the line seperti iklan di media cetak dan elektronik. Sisanya 20% pakai strategi below the line yaitu melalui face to face. Below the line cocok dipakai untuk strategi marketing barang mewah. Butuh face to face seperti acara exhibition," pungkasnya.
(dnl/dnl)











































