“Kalau ongkos ekspedisi untuk bawa sapi dari Bima atau Dompu ke Jakarta mahal sekali. Untuk tarifnya, orang ekspedisi mengenakan biaya Rp 1 juta untuk satu sapi. Dihitungnya per kepala (ekor), bukan dari berat sapinya,” ucap Burhan, pedagang sapi kurban pada detikFinance, ditemui di pusat penjualan sapi kurban di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, Minggu (6/9/2015).
Burhan menuturkan, akibat buruknya infrastruktur pengangkutan ternak, dibutuhkan waktu setidaknya 6 hari untuk mendatangkan sapi dari daerah asalnya hingga ke Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mahalnya ongkos angkut tersebut, kata Burhan, jadi alasan peternak sapi asal Bima menjual sapinya pada rumah potong hewan (RPH) yang ada di Jabodetabek.
“Soalnya impor lebih murah. Di Bima saja sapi puluhan ribu ada, satu orang peternak rata-rata punya 30-an. Karena mereka bertani ya piara sapi di gunung-gunung,” jelas Burhan.
Burhan menuturkan, jika pemerintah berkomitmen serius menyetop ketergantungan daging sapi impor, seharusnya pemerintah membangun infrastruktur khusus ternak dari sentra sapi di daerahnya hingga Jakarta.
“Memang ada orang nyari sapi ke kita, tapi nggak banyak. Harga daging sapi di Bima sekarang Rp 80.000/kg. Kalau ada angkutan yang bagus nggak usah impor, ambil saja dari sana,” tambahnya.
(ang/ang)











































