"Pada 2008 sebanyak 6,5 persen (penduduk yang mengonsumsi sapi), di 2009 sebanyak 6,14 persen, 2010 sebanyak 6,61 persen, 2011 sebanyak 7,23 persen, 2012 sebanyak 5,82 persen, dan 2013 sebanyak 4,58 persen. Artinya yang membutuhkan daging sapi sehari-hari hanya 4,58 persen dari total populasi," kata Staf Ahli Menteri Pertanian, Syukur Iwantoro, dalam diskusi 'Stabilisasi Daging Sapi' di Gedung Bulog, Jakarta, Selasa (8/9/2015).
Dibandingkan dengan jumlah konsumen daging ayam, pemakan daging sapi tergolong sangat kecil. Sebagai pembanding, sekitar 79% dari seluruh populasi Indonesia sehari-hari mengonsumsi daging ayam. "Ayam hampir 79 persen, hampir seluruh populasi," tutur Syukur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebagian besar yang masih bergejolak hanya Jakarta, Bandung, Jabar, Banten. Selain 3 provinsi ini sapi bisa dipenuhi sepenuhnya dari lokal," Syukur mengungkapkan.
Syukur optimistis, harga daging sapi yang saat ini masih berada di atas kisaran Rp 120.000/kg dapat segera distabilkan oleh Perum Bulog, karena gejolak hanya terjadi di 3 provinsi, sehingga Bulog cukup melakukan operasi pasar di 3 wilayah ini saja. "Kalau Bulog menangani seluruh nusantara berat, tapi kalau cuma 3 provinsi ini pasti Bulog bisa," ucapya.
Lebih lanjut, pihaknya juga menjelaskan kenaikan harga daging sapi belakangan ini tak lepas dari harga daging sapi di pasar internasional yang terus merangkak naik. Penyebabnya ialah penurunan pertumbuhan populasi sapi dunia, sementara konsumsinya terus tumbuh lebih tinggi.
"Harga daging sapi di Pasifik diperkirakan US$ 4.800/ton pada 2016. Pertumbuhan (populasi sapi) global 1,6 persen sampai 2023. Melambat dari 10 tahun terakhir sebesar 2,3 persen. Jadi (harga daging sapi) ini masalah global, tidak terlepas dari kondisi global," tutupnya.
(dnl/dnl)











































