Bambang datang sekitar pukul 09.00 WIB mengenakan batik berwarna coklat, ditemani dua orang staf. Pertemuan berlangsung tertutup dan selama kurang lebih satu jam.
"Kemarin kan saya baru pulang dari G20 di Turki. Saya laporkan perkembangan pembicaraan di sana," ungkap Bambang saat meninggalkan Istana Negara, Jakarta, Selasa (8/9/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari G-20 kemarin, 2015 memang tahun yang berat dan tidak memberikan prospek cerah pada siapa pun," paparnya.
Salah satu penyebabnya adalah perbaikan ekonomi di Amerika Serikat (AS). Bank Sentral AS, The Fed juga kemudian berencana menaikan suku bunga acuan untuk mendorong ekonomi AS tumbuh lebih tinggi.
Meski hanya rencana, investor merasakan ada ketidakpastian sehingga banyak aksi spekulasi kemudian muncul. Pasar keuangan bergejolak dan dolar AS menguat hampir ke semua mata uang, termasuk terhadap nilai tukar rupiah.
"Membaiknya data AS itu juga memberikan konsekuensi terhadap negara lain, termasuk kepada rupiah kita kemarin. Kami sampaikan ke Presiden bahwa sampai akhir tahun kita harus menjaga ekonomi kita agar tetap baik," terang Bambang.
Selain itu Bambang juga melaporkan perkembangan dari pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2016 dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Sekarang masih dalam tahap awal pembahasan dengan Badan Anggaran (Banggar).
"Saya lapor mengenai perkembangan pembahasan APBN. Masih tahap awal. Kemudian juga perkembangan APBN sampai saat ini," imbuhnya.
Paket kebijakan ekonomi yang akan diumumkan pemerintah dalam waktu dekat, diakui Bambang juga menjadi bahan pembicaraan. Terutama mengenai efeknya terhadap perekonomian secara keseluruhan.
"Disinggung juga. Beliau inginkan tentunya yang punya dampak signifikan itu harus dimasukkan. Apakah PP, apakah Permen dan sebagainya. Sudah kita omongkan," tegas Bambang.
(mkl/ang)











































