Selain sapi siap potong, Bulog juga mendapat izin impor 1.000 ton daging sapi jenis secondary cut dan pada kuartal IV nanti akan diberikan lagi izin impor 10.000 ton daging sapi jenis prime cut.
Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti menyatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan operasi pasar (OP) untuk menurunkan harga daging sapi hingga kisaran sekitar Rp 100.000/kg.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Operasi pasar ini tentunya mengarah pada wilayah yang ada gejolaknya. Kalau gejolaknya di Jakarta dan sekitarnya sampai Jawa Barat dan Banten, tentu kita konsentrasinya ke sana," kata Djarot usai diskusi di Gedung Bulog, Jakarta, Selasa (8/9/2015).
Ia menambahkan, Bulog enggan berjualan daging sapi di luar ketiga provinsi tadi karena takut merugikan pedagang lokal. "Kalau yang sudah stabil nggak usah, nanti merugikan pedagang yang ada di sana," ucapnya.
Sementara itu, Kementerian Pertanian mengungkapkan bahwa hanya 4,58 persen atau tak lebih dari 12 juta penduduk Indonesia yang mengonsumsi daging sapi. Berdasarkan data Kementan, konsumen daging sapi di Indonesia pada kurun waktu 2008-2013 hanya berkisar antara 4,5 sampai 7,2 persen.
"Pada 2008 6,5 persen (penduduk yang mengkonsumsi sapi), 2009 6,14 persen, 2010 6,61 persen, 2011 7,23 persen, 2012 sebanyak 5,82 persen, 2013 4,58 persen. Artinya yang membutuhkan daging sapi sehari-hari hanya 4,58 persen dari total populasi," kata Staf Ahli Menteri Pertanian Syukur Iwantoro.
Selain jumlah populasi yang membutuhkannya sedikit, sebagian besar konsumen daging sapi berada hanya di 3 provinsi, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten. Hanya 3 provinsi ini pula yang membutuhkan sapi impor. Gejolak harga daging sapi hanya terjadi di 3 provinsi ini.
"Sebagian besar yang masih bergejolak hanya Jakarta, Bandung, Jabar, Banten. Selain 3 provinsi ini sapi bisa dipenuhi sepenuhnya dari lokal," Syukur mengungkapkan.
Syukur optimistis harga daging sapi yang saat ini masih berada di atas kisaran Rp 120.000/kg dapat segera distabilkan oleh Perum Bulog karena gejolak hanya terjadi di 3 provinsi, sehingga Bulog cukup melakukan operasi pasar di 3 wilayah ini saja.
"Kalau Bulog menangani seluruh nusantara berat, tapi kalau cuma 3 provinsi ini pasti Bulog bisa," ucapnya.
(hen/hen)











































