Rel Kereta 'Mati' Bandung-Ciwidey Terlantar Jadi Bengkel Hingga Rumah

Rel Kereta 'Mati' Bandung-Ciwidey Terlantar Jadi Bengkel Hingga Rumah

Wiji Nurhayat - detikFinance
Jumat, 11 Sep 2015 10:48 WIB
Rel Kereta Mati Bandung-Ciwidey Terlantar Jadi Bengkel Hingga Rumah
Foto:PT KAI
Jakarta - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat, ada 3.000 Km rel mati alias rel kereta api yang sudah tidak beroperasi. Salah satunya adalah jalur Bandung-Ciwidey Jawa Barat (Jabar).

Jalur yang mulai beroperasi sejak tahun 1924 oleh perusahaan kereta api negara milik Belanda Staatsspoorwegen itu tercatat sudah tidak lagi digunakan tahun 1972.

Alhasil, saat ini kondisinya cukup memprihatinkan. Banyak rel yang sudah tidak ada dan digantikan dengan bangunan liar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sekarang itu karena di sana banyak dijadikan kawasan industri, itu banyak yang sekarang bantalan rel yang sudah jadi pabrik dan dijadikan areal perumahan," tutur Manager Program Non Building Unit Heritage, Conservation & Architecture PT KAI Wawan Hermawan kepada detikFinance, Kamis (11/9/2015).




Selain menjadi rumah dan areal pabrik, bantalan rel juga diganti dengan bangunan bengkel mobil hingga tempat pendidikan Taman Kanak-kanak (TK).

"Salah satu stasiun di jalur itu ada yang sudah menjadi rumah dan bangunan Taman Kanak-kanak (TK), yang ini jadi bengkel mobil," tambahnya.

Bahkan rel kereta api yang masih ada di dalam jembatan ditambahi oleh warga dengan campuran bahan pasir dan semen agar jembatan bisa dilewati motor.

"Jembatan sekarang jadi jembatan umum dan dipo kereta jadi gedung olahraga," katanya.




Hal ini tentunya menjadi pekerjaan yang tidak mudah. Pemerintah perlu kerja keras untuk mengaktifkan kembali jalur rel mati karena jalur Bandung-Ciwidey dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi.

"Jalur ini sangat penting. Dulu buat angkut belerang dan hasil bumi," tukasnya.

Menurut data Unit Heritage, Conservation & Architecture PT KAI studi kelayakan pembangunan jalur tersebut selama dua tahun sejak 1915.

Dari hasil penelitan lapangan itu lintas Bandung-Banjaran-Kopo-Dayeuh Kolot-Ciwidey dengan lintas cabang Dayeuh Kolot (Citeureup) menuju pemukiman padat penduduk di wilayah distrik Ciparay, Majalaya ditetapkan menjadi rute paling memungkinkan dibangun jalan rel.

Pembangunan tahap pertama dimulai pada 1917, menggunakan lebar rel kereta standar SS, yaitu 1067 mm dengan jarak rute Bandung-Kopo sepanjang 26,5 km.




Jalur cabang bermula dari stasiun Cikudapateuh pada lintas Bandung-Cicalengka. Setelah itu stasiun yang dibangun sesuai urutan adalah Buah Batu, Dayeuh Kolot, Banjaran, dan Kopo.

Pada halte Dayeuh Kolot dibangun jalur cabang sejauh 17,5 KM menuju Majalaya. Sedangkan sepanjang rute Dayeuh Kolot-Banjaran, jalur rel dipasang disisi jalan raya Bandung-Banjaran. Setelah itu rel berbelok ke arah barat menuju Kopo melewati Citalutung.

Saat pembangunan jalur Bandung-Kopo, Staatsspoorwegen ketika itu juga tengah bekerja sama dengan pemerintah Gementee (kotapraja) Bandung dalam rangka menata transportasi di Kota Bandung. Penataan itu berupa pembangunan halte-halte dan stasiun baru untuk memecah arus penumpang agar tidak terlalu padat naik-turun dari Stasiun Bandung.





Pada saat itu kebanyakan mobilitas penumpang pribumi lokal lebih banyak beraktivitas di sekitar Andir, Ciroyom, dan Kiara Condong. Sedangkan Stasiun Bandung diupayakan tujuannya untuk melayani penumpang kereta api jarak jauh. Selain itu atas permintaan warga Eropa yang bermukim di kawasan elit Bandung, juga dibangun satu halte khusus di Jalan Jawa.

Pekerjaan pemasangan rel pada lintas Bandung-Kopo sempat tertunda dan baru diresmikan pada 13 Pebruari 1921. Masih dalam paket proyek yang sama, pembangunan lintas cabang Dayeuh Kolot-Majalaya dapat diselesaikan pada bulan Desember 1921. Sedangkan pembangunan tahap kedua yaitu rute Kopo-Ciwidey mulai dilakukan sekitar Januari 1922.

Lintas sejauh 13 km itu selesai hanya dalam dua tahun dan resmi dibuka pada 17 Juni 1924. Pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu memikirkan rencana lintas cabang Banjaran-Pangalengan. Selain berhubung jalur yang akan dibangun berbiaya tinggi karena melalui pegunungan dan kondisi keuangan tidak mendukung, rencana tersebut urung dilaksanakan.





Memasuki dekade 1970-an, jumlah penumpang kereta api pun terus menurun dengan semakin banyaknya angkutan bus yang melayani rute searah. Dengan alokasi dana perbaikan yang semakin minim dan pendapatan yang terus merugi secara perlahan membuat jalur tersebut semakin diabaikan dalam rencana anggaran perbaikan jalur. Puncaknya adalah pada 1972 jalur Bandung-Ciwidey terpaksa ditutup setelah sebuah rangkaian kereta api diesel mengalami kecelakaan fatal.

Pihak PT KAI pada waktu itu PJKA beralasan jalur ditutup sementara sampai mendapat persetujuan anggaran perbaikan dari pemerintah akibat kondisi track sudah tidak memadai. Kenyataannya jalur kereta api yang melintasi daerah-daerah berpanorama indah itu tetap tidak operasional sampai hingga kini.

(hen/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads