"Harga-harga komoditas dunia memang sedang turun saat ini termasuk susu. Produksi susu dunia saat ini sedang over supply maka harganya jatuh," ujar Ketua Dewan Persusuan Nasional Teguh Boedianto kepada detikFinance, Jumat (11/9/2015).
Menurut Teguh, pengaruh turunnya harga susu dunia saat ini di Indonesia hanya dinikmati oleh industri. Sedangkan di konsumen justru sebaliknya. Saat ini memang kurs rupiah terhadap dolar AS memang melemah sampai Rp 14.000/US$, sehingga berdampak pada susu impor yang 80% memenuhi kebutuhan domestik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya turunnya harga bahan baku dunia tidak lantas menurunkan harga jual produk susu di Indonesia.
"Masyarakat nggak akan ngerti harga bahan baku susu di luar negeri sedang anjlok, karena di sini harga produk jual susu tetap alias nggak turun. Industri pengolahan susu memanfaatkan turunnya harga bahan baku untuk mensubsidi pengeluaran lain seperti biaya iklan. Terbukti harga jual produk susu di sini nggak turun kan," jelasnya.
Saat ini, Eropa kebanjiran pasokan susu. Rusia melarang barang impor masuk, sementara permintaan susu dari China melemah. Kondisi ini membuat pasokan susu melimpah.
Di seputaran Eropa saat ini harga susu lebih murah daripada sebotol air mineral. Satu botol air mineral berkapasitas 1 liter harganya US$ 1,5, sementara seliter susu harganya US$ 1.
Kondisi ini menjadi bencana bagi peternak susu. Pada hari Senin lalu, ribuan peternak susu melakukan aksi protes di Brussel, Belgia memblokir jalan dengan traktor dan melempati polisi dengan jerami dan telur.
(hen/hen)










































