Maskapai penerbangan di Indonesia mengeluhkan tingginya harga avtur saat ini yang mencapai selisih lebih tinggi 15-20% dibanding negara-negara di ASEAN.
Sementara, kebutuhan avtur setiap tahunnya untuk memenuhi operasional maskapai penerbangan di Indonesia cukup tinggi mencapai 5 juta kiloliter (KL) atau 5 miliar liter.
Dalam website resmi Pertamina, harga avtur yang berlaku untuk penerbangan internasional adalah US$ 46,60 sen/liter dan domestik Rp 7.114,35/liter atau setara US$ 51,4 sen/literβ.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga fuel kita di atas negara-negara di ASEAN. Kebutuhan avtur kita 5 juta kiloliter per tahun atau 5 miliar liter per tahun. Itu seluruh airlines, untuk Garuda Indonesia saja 1,7 miliar liter per tahun," ungkapnya kepada detikFinance, Minggu (13/9/2015).
Arif menjelaskan, usulan penurunan harga avtur oleh Kementerian Perhububungan dinilai sangat bagus untuk mendukung keberlangsungan bisnis penerbangan di Indonesia. Dengan selisih yang lebih kecil, maskapai bisa tetap melangsungkan bisnis usahanya.
"Kalau perbedaan 5% saja, itu cukup signifikan. Lumayan loh. Maskapai bisa survive," katanya.
Untuk itu, Arif menambahkan, pihaknya berharap perintah Kemenhub tersebut segera direalisasikan. Jika ada perdebatan, hal tersebut bisa langsung dibicarakan dengan Kementerian Keuangan, Kemeterian ESDM, dan Kementerian BUMN.
"Misalkan Pertamina bilang banyak biaya logistik, operasional yang harus ditanggung. Coba saja dilihat, nanti dihitung-hitung, perlu dilihat detil, kita sampaikan ke Kemenku, ESDM, BUMN," imbuh Arif. (drk/ang)










































