"Paling susah itu kalau kami survei ke perumahan elit. Tidak gampang, susah ditembus, padahal kami cuma minta waktu sebentar, wawancara tidak bakal lama kok. Soalnya data sangat kami perlukan," ucap Suryamin, ditemui di Kantor BPS, Jakarta, Senin (14/9/2015).
Kendati demikian, kata Suryamin, pihaknya hanya bisa melakukan cara persuasif untuk mengajak peran aktif penghuni perumahan elit agar bersedia disurvei.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Suryamin, selain sulit menembus warga perumahan elit, BPS juga kerap kesulitan menembus badan usaha atau perusahaan. Padahal, lanjutnya, data-data yang dirilis BPS juga sangat bermanfaat untuk kelangsungan bisnis mereka.
"Sulitnya kalau establish (perusahaan mapan), mereka tidak mau kasih data. Setengah jam luangkan waktu untuk kami wawancara, tidak lama kan. Pengusaha harus respons betapa pentingnya survei. Memang tingkat kesulitanya beda, mungkin pengusaha sibuk," jelas Suryamin.
Untuk mengatasi kesulitan mengoleksi data dari pelaku usaha, sambung Suryamin, pihaknya aktif mengirimkan surat pemberitahuan pada perusahaan beberapa minggu sebelum melakukan survei.
"Kami butuh data, caranya kami surati dulu bahwa tanggal sekian ada orang dari BPS mau survei. Repotnya, kan kasihan orang kita kasih honor petugas untuk sekali datang, tapi karena sulit petugas harus datang berkali-kali. Data kan penting buat pengusaha," pungkasnya.
(dnl/dnl)











































