Toko Tani ini, kata Amran, sangat penting untuk menjaga harga di tingkat produsen maupun konsumen. Harga pangan dijaga agar tetap menguntungkan bagi petani, tapi tidak memberatkan masyarakat sebagai konsumen. Fungsinya hampir mirip seperti Bulog.
"Anggarannya (pembangunan 1.000 Toko Tani) Rp 200 miliar. Jadi di 1.000 Toko Tani ini kita menempatkan komoditas strategis berdasarkan keunggulan komparatif suatu daerah, sehingga bisa memotong rantai pasokan yang selama ini terlalu panjang," ujar Amran di sela-sela rapat kerja dengan Komisi IV di Gedung DPR, Jakarta, Senin (14/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia berharap, rantai distribusi pangan yang terlalu panjang bisa dipotong dengan adanya Toko Tani, sehingga harga di tingkat petani tidak ditekan terlalu rendah, dan harga di tingkat konsumen tidak melambung tinggi. Toko Tani akan membeli bahan-bahan pangan strategis langsung dari petani di sentra-sentra pangan, lalu menjualnya langsung kepada masyarakat, tidak banyak perantaranya.
"Kita mengharapkan supply chain terpotong, misalnya dari 8 jadi hanya 4. Produsen bisa memasok langsung ke toko. Misalnya pernah terjadi bawang di produsen hanya Rp 6.000/kg tapi di pasar Rp 36.000/kg, naik 500 persen karena rantai pasoknya terlalu panjang," Amran menuturkan.
1.000 unit Toko Tani baru untuk tahun depan ini akan dibangun di daerah-daerah yang fluktuasi harga pangannya tinggi dan berdampak luas pada harga pangan nasional. Komoditas pangan apapun yang bergejolak akan dijual di Toko Tani. "Toko Tani dibangun di daerah-daerah kota besar yang fluktuasi harga pangannya tinggi," tutupnya.
(rrd/rrd)











































