Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bahlil Lahadalia mengatakan, saat harga komoditas masih tinggi, banyak pengusaha yang berlomba-lomba berbisnis di sektor pertambangan dan perkebunan.
"Ini kan soal keidakbiasaan kita saja. Karena teman-teman pengusaha dari dulu ketika tambang dan kayu masih booming, di darat masih booming itu kemudian nggak lirik persoalan kelautan," kata Bahlil ditemui di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Jalan Ridwan Rais, Senin (14/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah sekarang kan data ikan laut kita cukup melimpah. Karena itu sebagai pengusaha kita melihat peluang lebih bagus. Di darat dulu menggiurkan, sekarang kita harus cari opportunity baru, laut adalah tambang baru," jelas pengusaha yang sempat menjadi supir angkot ini.
Ketertarikan sejumlah pengusaha muda pada bisnis perikanan, lanjut Bahlil, akibat harga komoditas tambang dan perkebunan yang anjlok dalam beberapa waktu terakhir.
"Tambang selesai di persoalan aturan minerba (larangan ekspor biji mentah), harga juga jatuh. Peluang besar di perikanan sekarang," tuturnya.
Bahlil mengaku, pihaknya saat ini tengah menunggu format bisnis yang ditawarkan Menteri KKP Susi Pudjiastuti pada pengusaha di bawah naungan organisasinya.
"Itu intinya kita mau bangun industri hulu hlilir di Timur. Di sana potensi kan besar, makanya kita minta master plan dari Bu Menteri, mana-mana saja yang bisa kita masuki," tutupnya.
(ang/ang)











































