Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino akhirnya angkat suara soal kritikan tersebut. Menurut Lino iklan di media massa nasional dengan skala besar seperti yang terjadi beberapa hari ini bukan kali pertama. Menurutnya itu sudah berapa kali dilakukan sebagai ajang promosi PT Pelindo II kepada investor dan masyarakat.
Dalam iklan 4 halaman tersebut, Pelindo II menampilkan proyek Terminal Kontainer 1 Pelabuhan New Tanjung Priok. Iklan itu juga menampilkan soal fasilitas Car Terminal Tanjung Priok yang mampu menampung 1 juta kendaraan per tahun yang dikelola oleh anak usaha Pelindo II yaitu PT Indonesia Kendaraan Terminal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait berapa biaya yang harus dikeluarkan oleh Pelindo II untuk iklan eksklusif tersebut, Lino mengaku tak tahu berapa biayanya. Ia beralasan karena ada bagian di Pelindo II yang menangani khusus soal iklan.
"Saya nggak tahu, nggak tahu soal hitungannya itu," ujar Lino.
Menurut Lino adanya iklan tersebut bisa menjadi sosialisasi ke publik bahwa Indonesia juga sudah punya pelabuhan khusus untuk ekspor-impor kendaraan roda empat. Menurutnya tak semua orang tahu soal keberadaan Car Terminal Tanjung Priok.
"Seperti car terminal, bahwa Indonesia selama ini sudah ekspor mobil," katanya.
Lino menegaskan bahwa soal biaya ikan yang harus dikeluarkan perseroan, tentunya sudah memperhitungkan aspek bisnis, terutama dalam rangka promosi. Hal ini merespons soal adanya anggapan bahwa uang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dipakai untuk hal pemborosan seperti yang dituding Rizal Ramli.
"Kalau Pak RR (Rizal Ramli) tanya saja dia. Ini bisnis, saya mengeluarkan, ada hitungan," kata Lino saat ditanya soal tudingan Rizal bahwa biaya iklan yang mencapai miliaran rupiah memakai uang BUMN.
Sebelumnya Rizal menilai iklan Pelindo II soal Pelabuhan New Tanjung Priok sebagai pemborosan BUMN.
"Saya cuma merasa ajaib ada BUMN pasang iklan empat halaman di Kompas, empat halaman di Bisnis Indonesia, hanya untuk mempertahankan argumen yang belum tentu benar. Ini pemborosan," tandas Rizal usai acara diskusi di Widya Graha LIPI, Jakarta, Selasa (15/9/2015).
Menurutnya, tindakan Lino ini jelas-jelas merugikan negara. Sebab, iklan yang dipasang untuk 'melawan Rizal Ramli' tersebut menghabiskan dana BUMN, yang juga uang negara, hingga miliaran rupiah. Padahal yang dibela adalah kepentingan pribadi RJ Lino.
"Ini menunjukkan sikap semena-mena. Memang duit nenek moyangnya apa? Ini kan duit BUMN," ujar Rizal.
(hen/ang)










































