Pihak Pelindo II melalui Dirutnya, RJ Lino, menjelaskan persoalan pembetonan jalur rel di Pelabuhan Tanjung Priok. Lino menegaskan bukan tak mendukung adanya rel kereta masuk di pelabuhan.
Menurut Lino pembetonan tersebut agar bisa menjadi lapangan bongkar muat kontainer dan menjadi lalu lintas truk pengangkut kontainer di pelabuhan Tanjung Priok. Ia beralasan pembetonan juga dilakukan karena untuk meningkatkan ketinggian lapangan di area rel yang bila musim hujan kerap digenangi air, hingga rel kereta tergenang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lino menambahkan dirinya sejak lama sudah berupaya mendukung adanya rel kereta di Pelabuhan Tanjung Priok karena sebagai alternatif angkutan selain truk di pelabuhan. Meskipun Lino salah satu yang beranggapan angkutan kereta di pelabuhan tak efisien bila dibandingkan dengan truk.
Ia mengatakan sejak beberapa tahun lalu, Pelindo II sudah menyiapkan lahan khusus hingga di atas 1 hektar di sekitar Terminal JICT di bawah Pelindo II. Lokasinya dekat Makam Mbah Priok, rencananya lahan tersebut untuk jadi lokasi baru tempat bongkar muat barang yang menggunakan layanan kereta api.
"Lahan untuk kereta masuk ke pelabuhan biar bisa bongkar. Lahannya lebih dari 1 hekter dari dulu saya sediakan di JICT," kata Lino.
Lino menambahkan penyediaan lahan untuk bongkar muat kereta merupakan upaya dukungan Pelindo II bagi tersedianya angkutan kereta di pelabuhan. Masalahnya adalah proses pembebasan lahan yang menjadi tanggung jawab kementerian perhubungan untuk akses tambahan rel ke pelabuhan Priok belum bebas seluruhnya.
"Itu bukan karena saya, saya sudah sediakan lahan di dekat Priok. Cuma lahan belum bebas," katanya.
Rizal Ramli sebelumnya menuding PT Pelindo II sengaja membeton rel kereta. Ia menganggap keputusan tersebut sebagai ketidakefisienan.
"Ini contoh ketidakefisienan, sudah ada rel kereta sejak zaman Belanda. Dulu kereta barang masuk sampai ke pelabuhan sejak Belanda. Barang turun dari pelabuhan masuk ke kereta," kata Rizal usai menghancurkan beton di dermaga 3, pekan lalu.
Rizal mengatakan, Pelindo II sengaja menutup rel kereta di Pelabuhan Tanjung Priok.
"Pelindo II dengan sengaja menutup dengan balok sampai ke dalam pelabuhan, sehingga KAI (Kereta Api Indonesia) tidak bisa masuk ke dalam pelabuhan," kata Rizal.
Rizal mengatakan, pada zaman Hindia Belanda, ada layanan kereta pelabuhan yang bisa masuk ke kawasan peti kemas di dalam pelabuhan. Namun selama bertahun-tahun, layanan kereta di pelabuhan sudah 'mati'.
Menurut Rizal dengan adanya rel kereta barang maka bisa menekan biaya logistik dan menekan dwell time proses keluar barang dari pelabuhan.
(hen/ang)











































