Beda dengan Rizal Ramli, RJ Lino Sebut Kereta Pelabuhan Tak Efisien

Suhendra - detikFinance
Selasa, 15 Sep 2015 20:25 WIB
Jakarta - Direktur Utama Pelindo II RJ Lino menanggapi soal kritikan yang dilancarkan Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli. Salah satunya soal tak dimanfaatkannya rel kereta di Pelabuhan Tanjung Priok, bahkan sampai dibeton, sehingga membuat tak efisien sistem logistik di Priok.

Rizal mengatakan, pada zaman Hindia Belanda, ada layanan kereta pelabuhan yang bisa masuk ke kawasan peti kemas di dalam pelabuhan. Namun selama bertahun-tahun, layanan kereta di pelabuhan sudah 'mati'. Padahal dengan adanya rel kereta barang maka bisa menekan biaya logistik dan menekan dwell time proses keluar barang dari pelabuhan.

Menanggapi ini, RJ Lino menegaskan bahwa Rizal Ramli perlu banyak belajar lagi soal sistem logistik perkeretaapian khususnya di pelabunan. Ia mengatakan, pada era modern saat ini justru tak semua transportasi berbasis kereta dipakai untuk pelabuhan yang ada di dunia apalagi rel kereta hingga masuk ke dermaga.

"Beliau (Rizal Ramli) lupa, jangan seperti bangsa kaca spion, yang selalu lihat masa lalu, akhirnya tabrak sana tabrak sini, rel keret api itu betul sekali sampai dermaga di zaman Belanda, tapi bukan zaman sekarang seperti di Rotterdam Belanda, Hamburg Jerman, nggak ada rel masuk dermaga," kata Lino kepada detikFinance, Selasa (15/9/2015)

Ia mengatakan, bila rel kereta sampai masuk dermaga seperti yang terjadi pada masa Pelabuhan Priok di Zaman Belanda, maka justru akan menurunkan kapasitas bongkar muat di Pelabuhan Priok sampai 35%.

Lino menambahkan, selama ini kemampuan bongkar muat 1 crane di Pelabuhan Priok sekitar 30 boks per jam. Setiap kapal yang bersandar butuh 3 crane bongkar muat. Artinya setiap 0,66 menit ada satu kontainer yang harus dibongkar. Kondisi ini akan sulit ditangani oleh angkutan kereta.

"Apakah kereta api bisa menangani itu, bisa nggak? Jawaban nggak," katanya.

Menurutnya berdasarkan pengalaman di Jepang dengan infrastruktur kereta apinya sangat maju, justru angkutan barang yang menggunakan kereta hanya 3,8%, sedangkan 55-60% memakai angkutan laut, dan sisanya pakai truk di jalan raya.

"Berdasarkan pengalaman di dunia, kereta api kalau mau efisien kalau jaraknya lebih dari 300 km, karena nggak bisa besaing dengan truk. Alasannya karena kereta tak bisa mengantar barang ke depan rumah, perlu biaya lagi," katanya.

Ia mencontohkan, bila angkutan kereta diterapkan maka yang paling memungkinkan harus ada distribusi kereta barang dari Priok ke pelabuhan di Cirebon yang jaraknya hanya 250 km. Jarak ini dianggap belum efisien untuk sebuah angkutan kereta barang.

"Apalagi di sekitar Priok ada 3 perlintasan sebidang di jalan raya, sampai Kemayoran. Beberapa lintasan sebidang, angkutan kereta hanya bisa beroperasi malam. Kalau ada yang bilang kereta masuk ke pelabuhan menyelesaikan kemacetan itu nggak benar," katanya.

Lino menegaskan angkutan kereta api di Priok tak ada kaitannya dengan menekan dwell time atau proses keluar barang dari pelabuhan.

"Dwell time penyelesaian dokumen tak ada kaitannya, kalau dokumen belum diselesaikan, maka barang tak bisa keluar. Kalau alasan kereta bisa jadi opsi angkutan lain itu benar, tapi nggak mengurangi dwell time," katanya.

Menurutnya cara yang paling efektif menekan kemacetan,polusi, efisiensi angkutan barang di pelabuhan adalah dengan memanfaatkan transportasi air yaitu Cikarang Bekasi Laut (CBL) sepanjang 40 km, dari kawasan industri menuju laut hingga Tanjung Priok dan sebaliknya

"Makanya kita ada solusi perbaiki kanal, untuk mengurangi kemacetan jalan raya dari truk, biaya freight bisa dikurangi, kalau ada ini biaya kontainer bisa turun US$ 30-40. Sekarang biaya kontainer Rp 1,7 juta per kontainer," katanya.

Lino kembali menyayangkan ada pejabat setingkat menteri yang pernyataannya yang tak banyak mengetahui persoalan. 

"Beliau mesti banyak belajar lah. Sebab kalau saya diam, nanti orang akan percaya," katanya.

Rizal Ramli sebelumnya menuding PT Pelindo II sengaja membeton rel kereta. Ia menganggap keputusan tersebut sebagai ketidakefisienan.

"Ini contoh ketidakefisienan, sudah ada rel kereta sejak zaman Belanda. Dulu kereta barang masuk sampai ke pelabuhan sejak Belanda. Barang turun dari pelabuhan masuk ke kereta," kata Rizal usai menghancurkan beton di dermaga 3, pekan lalu.

(hen/ang)