Harga Minyak Kembali Tembus US$ 52 Per Barel
Senin, 28 Feb 2005 14:21 WIB
Jakarta - Harga minyak dunia terus merangkak naik. Harga minyak saat bahkan mencapai US$ 52 per barel. Kenaikan harga minyak ini akan terus berlangsung hingga beberapa pekan mendatang.Harga minyak di pasar New York untuk jenis light crude naik sebesar 26 sen sehingga menjadi US$ 51,75 per barelnya. Namun kenaikan harga minyak ini, masih berada di bawah kenaikan pada bulan Oktober lalu dimana harga minyak pernah tembus hingga US$ 55,67 barel atau US$ 4 lebih tinggi.Namun berbagai perkiraan menyebutkan selisih harga minyak akan lebih tinggi sebesar US$ 6 per barel dibanding tahun 2004."Kenaikan harga minyak akan terus mempengaruhi pasar. Orang-orang terutama pelaku pasar makin khawatir akan naiknya harga minyak dunia ini. Harga ini akan terus naik menjelang masuknya musim dingin pada bulan Maret nanti," kata John Brady, analis ABN AMRO di New York seperti yang dikutip Reuters, Senin (28/2/2005).Commodity Futures Trading Commission (CFTC) atau Komisi Perdagangan Berjangka menunjukkan para spekulan minyak sudah mengambil langkah-langkah untuk mengantisipasi harga minyak yang terus tinggi. Mereka tidak berani mengambil risiko untuk melakukan kontrak pembelian minyak dalam waktu dekat iniCFTC juga memprediksikan kenaikan akan terus berlangsung selama beberapa pekan dimana harga minyak akan menjadi US$ 54 per barel. Namun Menteri Perminyakan Arab Saudi Ali al-Naimi memprediksikan harga minyak akan berkisar antara US$ 40 hingga US$ 50 per barel hingga pada akhir tahun ini.Qatar, negara produsen terkecil dari Organisasi Pengekspor Minyak (OPEC) menyatakan, dengan tinginya harga minyak tersebut seharusnya membuat OPEC tidak lagi membatasi produksinya yang kini hanya sebesar 27 juta barel per hari. Qatar akan memperjuangkan penghilangan batas produksi minyak dalam pertemuan OPEC di di Iran pada 16 Maret 2005 mendatang.
(mar/)











































