JK Pertanyakan Data BPS Soal Produksi Padi 75 Juta Ton

JK Pertanyakan Data BPS Soal Produksi Padi 75 Juta Ton

Michael Agustinus - detikFinance
Rabu, 16 Sep 2015 13:40 WIB
JK Pertanyakan Data BPS Soal Produksi Padi 75 Juta Ton
Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) meminta evaluasi soal data proyeksi atau angka ramalan (aram) produksi padi 2015 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS). Pada Aram I, BPS mencatat produksi beras mencapai 75,55 juta ton gabah kering giling (GKG).

"Saya minta dievaluasi kembali angka-angka karena angka produksi (padi) 75 juta ton itu. Kalau 75 juta ton berarti rata-rata orang Indonesia makan 175 kg per tahun, itu tidak mungkin. Di mana surplusnya? Kenapa kita impor?" tanya JK dalam acara briefing soal sektor pertanian bersama Menteri Pertanian Amran Sulaiman dan jajarannya, di Kantor Kementan, Rabu (16/9/2015).

JK mengatakan, data produksi padi harus dievaluasi lagi agar mendapatkan data yang lebih akurat. Alasannya hal ini akan berdampak pada kebijakan selanjutnya, apakah perlu impor beras atau sebaliknya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jumlah (produksi) saja kita evaluasi, kita hitung lebh cermat yang nanti mempengaruhi subsidi bibit dan sebagainya. Kalau memang kekurangan (beras), pasti kita terbuka kebijakan impor," katanya.

JK mengingatkan, agar para jajaran kementerian pertanian waspadai menghadapi kemungkinan terburuk dari dampak cuaca ekstrem El Nino. Alasannya harga beras merupakan komoditas yang sensitif. Ia berharap target swasembada bisa tercapai dengan upaya keras.

"Harga beras itu dilematis, naik salah turun salah. Naik jadi inflasi, turun merugikan petani," katanya.

Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi dalam Angka Ramalan (ARAM-I) 2015, Indonesia akan meraih surplus beras 5 juta ton tahun ini.

Menurut data BPS, produksi beras Angka Tetap (ATAP) BPS 2014 sebanyak 70,85 juta ton gabah kering giling (GKG) sementara diprediksi produksi menurut Angka Ramalan (ARAM I) BPS 2015 mencapai 75,55 juta ton GKG atau jika dikonversi ke beras menjadi 47 juta ton.

(hen/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads