Bagaimana tanggapan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman terhadap keraguan JK tersebut?
Amran menegaskan Indonesia belum mengimpor beras. Menurutnya, data BPS tersebut masih terbukti, karena masih terpenuhinya seluruh kebutuhan beras nasional dari pasokan dalam negeri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait permintaan JK agar data produksi pangan dicermati kembali, Amran menuturkan bahwa evaluasi terhadap data produksi pangan telah dilakukan oleh kementeriannya sejak Januari lalu atas permintaan BPS.
"Sejak Januari kami sudah diminta BPS untuk mengecek kembali bersama Kementan tentang data produksi, sekarang BPS mulai bekerja," katanya.
Meski data produksi pangan yang diumumkan BPS diragukan kebenarannya oleh Wapres JK, pihaknya untuk sementara masih menjadikan data tersebut sebagai acuan dalam pengambilan kebijakan.
"Untuk sementara kita masih mengacu pada angka BPS yang ada, setelah ada revisi kita ubah angka itu," ucapnya.
Amran menyatakan bahwa impor beras bisa saja dibuka bila ternyata produksi beras di bawah angka produksi BPS. "Nanti kita lihat, prinsipnya impor berdasarkan kebutuhan," tutupnya.
Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi dalam Angka Ramalan (ARAM-I) 2015, Indonesia akan meraih surplus beras 5 juta ton tahun ini.
Menurut data BPS, produksi beras Angka Tetap (ATAP) BPS 2014 sebanyak 70,85 juta ton gabah kering giling (GKG) sementara diprediksi produksi menurut Angka Ramalan (ARAM I) BPS 2015 mencapai 75,55 juta ton GKG atau jika dikonversi ke beras menjadi 47 juta ton
(hen/hen)











































