Namun kini sejak beberapa hari terakhir harga Final Stock (FS) ayam dari peternak jatuh ke Rp 15.000/kg di bawah harga pokok produksi (HPP) Rp 17.000/kg.
Di saat yang sama, peternak dihadapkan pada kenaikan harga DOC (Day Old Chick/bibit ayam) yang saat ini harganya di kisaran Rp 5.100-5.300/ekor dari harga normal Rp 4.000/ekor. Peternak ayam pun mengalami kerugian alias 'tekor'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengangkat kembali harga ayam ke tingkat yang menguntungkan bagi peternak, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengaku telah melakukan pertemuan maraton dengan pata peternak. Hasilnya, disepakati bahwa pasokan ayam harus dikurangi.
"Kita sudah rapat maraton dua minggu ini bersama peternak kecil. Tiga minggu lalu harga (ayam) naik sekarang turun. Sekarang sudah ketemuan antara pertenak kecil dan besar, ada kesepakatan bahwa kita jaga harga dengan pengaturan pasokan," kata Amran usai pertemuan dengan JK di Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (16/9/2015).
Amran belum menetapkan berapa besar pengurangan pasokan ayam yang harus dilakukan. Pihaknya akan menghitung lebih lanjut pengurangan produksi ayam ini dengan para peternak dalam waktu dekat.
"Nanti besok atau lusa (peternak ayam) ketemu saya," tutupnya.
Sebanyak 13 Pengusaha perunggasan di bawah Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) sepakat mengafkirkan atau memusnahkan 6 juta ekor bibit ayam untuk mengembalikan harga daging ayam yang saat ini jatuh di tingkat peternak.
Sebelumnya Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menyepakati langkah pemusnahan 6 juta ekor bibit ayam (PS).
Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian kemudian mengumpulkan pengusaha pada Senin, (14/9/2015) malam.
Pertemuan tersebut menyepakati langkah memusnahkan 6 juta ekor PS (bibit ayam) untuk sedikit mengurangi suplai supaya harga kembali stabil ke atas HPP.
(hen/hen)











































