Pakai Sistem Ini Peternak Ayam Petelur Yogya Makin Untung

Bagus Kurniawan - detikFinance
Rabu, 16 Sep 2015 17:25 WIB
Yogyakarta - Kelompok peternak ayam petelur di Kabupaten Kulonprogo kini senang dengan penghasilan usahanya yang meningkat. Hal ini setelah mereka menerapkan metode biosecurity yang memungkinkan ternak terhindari dari penyakit mematikan.

Metode biosecurity dengan tiga zona, membuat ribuan ayam petelor di Kulonprogo terhindar dari penyakit unggas seperti Avian Influenza (AI). Metode biosecurity mengharuskan peternak harus disiplin dalam menjaga ternaknya dari ancaman potensi sumber penyakit.

Dua kelompok peternak ayam tersebut adalah Kelompok Ngudi Lestari di Desa Gulurejo Kecamatan Lendah dan Kelompok Tigan Jaya di Dusun Karangasem Wetan, Desa Srikayangan Kecamatan Sentolo. Puluhan anggota kelompok peternak tersebut sudah merasakan hasil positif.

Ketika terjadi serangan AI atau flu burung, kandang ayam mereka tidak terkena penyakit yang mematikan ayam tersebut. Ribuan ayam petelor mereka tetap sehat. Sebaliknya para peternak yang belum mengikuti cara-cara, ayam-ayam tersebut banyak yang mati.

Hal itu diungkapkan Ketua Kelompok Peternak Ayam Ngudi Lestari, Akhir Rohman kepada wartawan bersama FAO di Dusun Sumurmuling, Desa Gulurejo, Kecamatan Lendah, Kulonprogo, Rabu (16/9/2015).

"Banyak manfaat yang kita peroleh dari penerapan biosecurity dan tiga zona itu. Produksi meningkat dan ayam terhindar dari penyakit seperti AI atau flu burung," ungkap Akhir Rohman.

Menurutnya, tiga zona tersebut adalah memisahkan area kotor, semi bersih dan bersih di areal kandang ayam untuk melindungi ternak dari kontaminasi penyakit. Sebab kebersihan kandang dan pakan itu adalah kunci penting.

"Kalau kandang bersih, tempat pakan juga bersih, produksi jadi meningkat," ungkapnya.

Menurutnya dalam menerapkan biosecurity tersebut di kalangan peternak skala kecil antara 500-8.000 ekor di Kecamatan Lendah maupun Sentolo itu tidaklah mudah. Namun dengan cara pelan-pelan dalam memberikan contoh dan pengertian, lama-lama banyak peternak yang mau menerapkannya.

Ia mengakui untuk mengubah perilaku peternak ayam yang sudah menekuni usaha lebih dari 35 tahun itu tidaklah mudah. Namun bila peternak disuruh menambah populasi ayam, mereka justru menyukai. Saat menambah namun tidak diikuti cara-cara yang aman, justru banyak terserang penyakit dan merugi.

"Kita harus mengubah sikap dulu. Kalau mau tambah populasi, mereka semangat. Sekarang mereka mau pagar di sekeliling kandang untuk keamanan. Pelan-pelan dan berhasil," kata Rohman didampingi anggota kelompok Ny Sugiyat.

Menurutnya adanya pagar yang mengelilingi kandang itu untuk mengisolasi dari hewan- hewan dan orang yang bisa membawa penyakit. Tidak semua orang juga bisa masuk ke kandang kecuali pekerja.

"Penularan penyakit jadi minim. Saat tetangga yang juga peternak ayam terkena serangan penyakit tapi di kandang kami tetap aman karena ada pembatasan, karena tidak ada unggas dari luar yang masuk," kata Rohman bangga.

Ia mengatakan dengan penerapan biosecurity tiga zona itu, biaya yang dikeluarkan untuk operasional seperti pembelian obat-obatan atau vaksin menjadi berkurang.

"Jauh lebih efisien sehingga keuntungan juga meningkat," kata Rohman di dampingi Petugas Pelayanan Veteriner Unggas Komersial, Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kulonprogo, drh Eko Sulisyadi.

Peternak Ny. Sugiyat menambahkan meski usaha ternak ayam petelor juga dijalani lebih dari 25 tahun, namun penerapan biosecurity baru dikenalkan sejak akhir tahun 2014 lalu. Para peternak telah merasakan hasil yang meningkat dengan cara biosecurity yakni dengan pembatasan kandang.

"Sekarang jarang ada ayam sakit. Produksi meningkat sampai 90 persen. Dari 100 ekor ayam, bisa bertelor hingga 90 butir telor. Kalau sebelum ada biosecurity telor kurang dari 70 persennya," katanya.

Menurutnya cara pembatasan itu diantaranya orang luar tidak boleh masuk ke areal kandang. Kalau dulu orang luar termasuk pedagang, tetangga bebas keluar masuk kandang. Sekarang dibatasi hanya sampai ditempat yang diperbolehkan.

Ia mencontohkan yang boleh masuk hanya anak kandang atau pegawai. Saat masuk kandang juga harus bersih dan mengenakan sandal atau ganti alas kaki yang telah disemprot disinfektan.

"Pedagang, penyetor pakan ayam hanya sampai depan bangunan tempat menumpuk pakan saja. Tidak boleh masuk ke dalam," papar Sugiyat.

Menurutnya saat menerapkan cara-cara seperti itu banyak tetangga yang mencibirnya. Ada masyarakat yang belum memahami cara-cara perlakuan di kandang ayam seperti yang dilakukan kelompok peternak tersebut.

"Kendalanya pada awalnya kita sungkan sama orang lain atau tetangga. Sebelumnya kalau tetangga butuh telor misalnya bisa langsung masuk ke dalam kandang ketemu atau minta langsung kepada pegawai saya. Sekarang ini tidak dan dibatasi masuknya. Kalau langsung ditegur ya sungkan," katanya.

Akibat pembatasan itu ada tetangga yang mempermasalahkan mengapa menjadi seperti itu. Namun para peternak dengan sabar dan pelan-pelan memberitahukan pentingnya keamanan dan kebersihan kandang agar terhindar penyakit.

"Sekarang kami bisa disiplin. Ini kelangsungan usaha kami," katanya.

Saat terjadi serangan penyakit A1 dan ND beberapa waktu lalu, usahanya terbebas dari penyakit tersebut. Ia mencontohkan setiap haris gerbang masuk kandang selalu ditutup rapat. Hewan atau unggas lain seperti burung dara, ayam kampung ataupun bebek juga tidak ada yang berkeliaran mencari makan sisa-sisa di dekat kandang.

"Untuk vaksinasi juga rutin dilakukan. Petugas vaksinator juga dilatih biosecurity. Sekarang untuk beli vaksin juga sudah sesuai standar pakai cool box. Dulu kami beli vaksin hanya pakai wadah tas plastik yang diberi es batu," katanya.

Sementara itu Ketua Kelompok Peternak Tigan Jaya menambahkan kebersihan kandang dan tempat pakan dan minum menjadi utama.

Tempat minum dulu hanya dibersihkan setiap 2 hari sekali, sekarang ini setiap pagi. Setelah mengikuti cara-cara biosecurity tersebut, jumlah kematian ayam petelor juga menurun.

Ia mengakui setelah ada program pembinaan tersebut produksi ayam petelor juga meningkat. Dari 1.000 ekor ayam bisa menghasilkan sekitar 50 kilogram setiap hari. Sebelumnya di bawah jumlah tersebut atau sekitar 40-an kg.

"Dulu sebelumnya, setiap hari bisa ada 6 ekor ayam yang mati. Sekarang kalau ada penyakit paling hanya satu ekor saja. Setelah ada pembinaan ini produksi juga meningkat, dari 1.000 ekor ayam bisa," pungkas Warsidi.

(bgs/hen)