Bagaimana Peternak Musnahkan 6 Juta Bibit Ayam?

Lani Pujiastuti - detikFinance
Rabu, 16 Sep 2015 18:12 WIB
Jakarta - Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) secara bertahap akan memusnahkan 6 juta ekor bibit ayam dalam rangka menormalisasi harga ayam di tingkat peternak. Bagaimana para peternak yang mencapai 13 perusahaan tersebut memusnahkan ayam-ayam mereka?

Rencananya pada tahap pertama akan dilakukan pengafkiran atau pemusnahan sebanyak 2 juta ekor bibit ayam. Pengafkiran ini akan diawasi pemerintah maupun GPPU. Sebanyak 13 perusahaan setuju akan memotong/mengafkirkan stok bibit ayam hidup sesuai dengan persentase yang disepakati.

Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) Krissantono menjelaskan, mekanisme pengafkiran 6 juta ekor bibit ayam ini belum tuntas dan akan dibahas kembali oleh para pengusaha. Selain itu, hasil pemusnahan ayam ini juga belum diputuskan akan dikemanakan.

"Mekanisme pengafkiran belum tuntas kita bahas. Yang jelas tahap pertama 2 juta ekor kita lakukan 9-30 September. Jadi kita sudah mulai sedikit-sedikit melakukan pengafkiran, tidak bisa langsung," kata Krissantono, dihubungi detikFinance, Selasa (15/9/2015).

Mekanisme yang belum tuntas termasuk menyepakati bibit ayam umur berapa yang akan diafkirkan. Ada usulan bibit-bibit ayam dengan usia 30-50 minggu dipotong lebih awal dari umur seharusnya. Yang dimaksud dengan bibit ayam ini adalah Parent Stock (PS) merupakan induk (ayam betina) yang menghasilkan anakan (DOC).

"Yang jelas itu ayam sudah menetas dan hidup semua. Ada yang usul (usia) 30 minggu, 50 minggu, akan kita bahas," tambah Kris.

Kris menyampaikan bahwa harga daging ayam di tingkat peternak saat ini sangat jauh di bawah HPP (Harga Pokok Produksi) atau modal para peternak.

"Harga daging ayam di peternak saat ini kisaran Rp 12.000-13.000/kg. Bahkan ada yang Rp 10.000/kg. Sementara HPP nya Rp 17.000/kg. Bisa dibayangkan kerugian peternak Rp 5.000-7.000/kg dikali berapa juta ekor per minggu," paparnya.

Kondisi saat ini dinilai pemerintah maupun pengusaha sudah kelebihan suplai. Pada Agustus saja, Dirjen PKH Kementerian Pertanian Muladno menyampaikan produksi ayam surplus 18 juta ekor/minggu.

Kemampuan terpasang produksi bibit ayam (DOC) para peternak secara nasional hampir 55-60 juta ekor per minggu. Sementara itu, permintaannya hanya 44-45 juta ekor per minggu.

Parent Stock (PS) s merupakan induk (ayam betina) yang menetaskan HE (hatching egg) menjadi DOC (day old chick). PS memiliki masa produktif mulai usia 20 minggu sampai 80 minggu. Setelahnya, PS memasuki masa tidak produktif dan diafkirkan (dipotong).

Namun pada saat tertentu seperti produksi berlebih pengusaha dengan skala usaha komersil kerap menempuh langkah pengafkiran lebih awal pada saat usia unggas masih produktif. Dengan mengafkirkan PS, anakan atau DOC yang ditetaskan dari HE (hatching egg) bisa ikut berkurang jumlahnya, sehingga harga bisa naik dan peternak bisa dapat untung.

(hen/hen)