Tidak sampai dua bulan menikmati harga bagus, kini harga daging ayam ras kembali jatuh ke level Rp 10.000-12.000/kg. "Tidak mudah mengatur harga di pasar, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Belum lama pada pertengahan Agustus harga ayam dianggap mahal. Kemudian pedagang demo," ungkap Don P. Utoyo, Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia kepada detikFinance melalui pesan singkat, Kamis (17/9/2015).
Don menjelaskan, penyebabnya yaitu para peternak tidak melakukan chick in atau pemasukan DOC (day old chick) saat hari raya Lebaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Don, kondisi tersebut berdampak satu bulan kemudian, yaitu pada pertengahan Agustus harga mulai terkerek naik. Anomali tajam pun terjadi. Harga daging ayam di pasar sempat menembus Rp 40.000/kg. Berangsur turun namun justru kembali ke titik di bawah HPP.
"Sebetulnya saat itu peternak tengah nikmati harga di atas HPP tapi hanya sebentar yaitu kurang dari dua bulan. Sebelumnya jual rugi di bawah HPP kurang lebih 15 bulan. Akhir Agustus sampai dengan saat ini harga LB (live bird/ayam hidup) anjlok jauh di bawah HPP, Peternak rugi besar lagi," terang Don.
Saat harga melambung, konsumen berteriak. Sebaliknya, saat ini justru peternak yang bersuara.
"Dengan harga ayam hidup anjlok giliran pelaku perunggasan minta pemerintah hadir untuk pulihkan kondisi ke yang sewajarnya," tambahnya.
Apa sebetulnya akar masalahnya?
"Suplai berlebih, demand turun. Permintaan masyarakat akan daging ayam kembali ke kondisi sehari-hari ditambah lesunya daya beli saat ini," jelas Don.
Kondisi pun berbalik, Don menambahkan semula peternak ditanya pemerintah. Saat ini peternak yang bertanya ke pemerintah.
"Kementerian Pertanian yang domain-nya di hulu dan on farm ditanyai bagaimana kurangi produksi DOC. Sementara di sisi lain, Kementerian Perdagangan yang domainnya di hilir ditanya bagaimana secara bertahap kembalikan harga agar semua mendapat untung yang wajar," katanya.
(rrd/rrd)











































