Indonesia sesuai data Kementerian Pertanian pada Agustus 2015 surplus produksi ayam mencapai 18 juta ekor/minggu. Meski demikian, rupanya moyang indukan ayam atau grand parent stock (GPS) masih bergantung dari impor. Tahun ini jumlahnya 665.000 ekor.
Bibit indukan ayam (GPS) ini menurut Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Muladno RI masih perlu dan harus impor.
"Masih dan harus impor," tegas Muladno kepada detikFinance melalui pesan singkat, Kamis (17/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, jumlah tersebut merupakan perhitungan para pelaku usaha berdasarkan kebutuhan masing-masing. "Berapa banyak setiap kali impor itu melihat kebutuhan. Realisasi impor tergantung kebutuhan masing-masing pengusaha. Kalo nggak butuh, bisa bulan itu nggak impor. Jumlahnya juga nanti bisa kurang dari yang disepakati di awal," tambahnya.
Pemusnahan 6 juta bibit ayam
Sebanyak 6 juta induk ayam (parent stock) akan diafkirkan (dimusnahkan) selama 9-30 September ini. Suplai daging ayam di pasar dinilai para pengusaha sudah berlebih sehingga menyebabkan harga ayam jatuh di bawah harga pokok produksi (HPP) dan peternak pun merugi.
Sebanyak 13 perusahaan perunggasan sudah sepakat memulai dengan pengafkiran atau pemusnahan 2 juta ekor induk ayam (PS). Hingga saat ini, teknis pengafkiran masih dibahas antar pengusaha.
"Besaran dan teknis penyesuaian DOC yang pas masih disiapkan oleh tenaga-tenaga ahli breeding farms. Begitu pula halnya dengan penyesuaian jumlah PS (induk ayam). Perhitungannya rumit, harus amat cermat, diantaranya terkait umur, lokasi, pembibitan, lines, dan sebagainya," ungkap Don P. Utoyo, Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia.
Ketika ditanya ke mana ayam setelah dipotong atau diafkirkan, Don mengaku belum bisa menjawabnya. "Pertanyaan itu belum bisa dijawab," tambah Don.
Pengusaha akan melakukan penyesuaian jumlah DOC (day old chick) dengan cara mengurangi jumlah induk (PS). Menurut Don, perhitungan cermat amat diperlukan atau akibatnya bisa berdampak ke suplai beberapa tahun ke depan.
"Kalau salah hitung bisa berdampak sangat negatif sampai beberapa tahun ke depan. Amat sangat kompleks," pungkas Don.
(rrd/rrd)











































