Rencana membuat lemari pendingin raksasa ini, untuk memperkuat peran Perum Bulog sebagai stabilisator harga dan pasokan bahan pangan strategis.
"Pemerintah ingin punya sebuah lembaga pangan yang kuat. Bisa betul-betul memberi layanan kepada masyarakat. Salah satunya dengan dibuatnya fasilitas cold storage. Saya ikut lihat storage di Dubai. Sepenangkapan saya, dari Presiden dan Mendag ingin punya cold storage yang terintegrasi," ungkap Djarot, ditemui usai rapat dengan Komisi IV DPR, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (17/9/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sebesar apa, tempatnya di mana, itu di internal sudah dibicarakan. Kemarin rencana akan ada di beberapa titik. Kalo tidak salah kajian kita bangun 3 cold storage baru di Jakarta. Kemudian di luar Jakarta juga akan ada di beberapa titik. Surabaya dan lainnya saya tidak hafal. Implementasinya saya berharap tahun depan sudah jalan kajiannya," jelas Djarot.
Djarot melihat pentingnya cold storage ini, contohnya bisa untuk menyimpan produk hortikultura. Supaya ketika panen, harga tidak jatuh karena produk bisa disimpan dulu. "Contohnya, hortikultura ini kan kalau di pasar sangat ditentukan harga pasokan dari petani. Sangat ditentukan kapan barang masuk. Pas hari ini masuk urutan terakhir kadang harganya jatuh," tambahnya.
Β
Menurut Djarot, harga pangan bisa dijaga dengan menyimpan hasil panen di dalam cold storage dalam beberapa hari. "Bisa lewat cold storage dulu satu minggu. Supaya bisa stabilisi pasokan. Kalau yang saya lihat di luar negeri seperti itu. Cold storage untuk mengatur suplai di pasar," terangnya.
Cold storage ini, kata Djarot, akan berada di bawah kendali Bulog. "Di bawah kendali Bulog. Nantinya saya akan senang sekali kalau petani mau sewa space di cold storage. Dana yang diperlukan sekitar Rp 2 triliun. Kalau ditambah modal kerja jadi Rp 1 triliun," pungkasnya.
(dnl/dnl)











































